Kamis, 22 September 2022

Modul Ajar /RPP Berdiferensiasi

 

MODUL AJAR / RENCANA PELAKSANAAN PEMBEAJARAN (RPP+)

A.

INFORMASI UMUM

Nama Penyusun

:

Nur Jannah, S.Pd.

Institusi

:

SDN Kalibaru 03

Mata Pelajaran

:

Seni Rupa

Unit 1

:

Menggambar Rumah Tetangga

Jenjang Sekolah

:

Sekolah Dasar (SD)

Semester 

I (Ganjil)

Fase / Kelas

:

B / IV (Empat)

Alokasi Waktu 

:

2 JP

Tahun Pelajaran

:

2022/2023




Moda Pembelajaran

:

Tatap Muka

Metode  Pembelajaran

:

Ceramah, Tanya Jawab, Film, Demonstrasi & Penugasan

Model Pembelajaran

:

Pembelajaran Berdiferensiasi Produk

Target Peserta Didik

:

Seluruh siswa kelas 4A

Karakteristik PD

:

Peserta Didik Auditori, Visual dan Kinestetik

Jumlah Peserta Didik

:

32 peserta didik

Profil Pelajar Pancasila

:


  • Berkebinenkaan Global, Komunikasi dan Interaksi antar budaya 

  • Bergotong-Royong Kolaborasi: Bekerja sama dan berkomunikasi untuk mencapai tujuan bersama, membantu teman sekelas. 

  • Bernalar Kritis Memperoleh dan Memproses Informasi Dan Gagasan: Menunjukkan rasa ingin tahu dan dapat bertanya untuk membantu pemahaman dalam seni

Sarana & Prasarana

:

  1. Komputer/Laptop, Proyektor, Jaringan Internet

  2. Link video pembuatan gambar rumah dari youtube

  3. Buku Siswa, LKPD

  4. Pensil atau pena, Kertas, Pewarna (spidol, krayon atau cat air), batang korek api


B.

Komponen Inti

1.

Capaian Pembelajaran (CP)



Mengalami

  1. Siswa mampu mengamati, mengenal, merekam dan menuangkan pengalaman kesehariannya secara visual dengan menggunakan garis pijak dan proporsi walaupun masih berdasarkan penglihatan sendiri. 

  2. Siswa dapat menggunakan alat, bahan dan prosedur dasar dalam berkarya.

Menciptakan

  1. Siswa mampu menciptakan karya dengan mengeksplorasi dan menggunakan elemen seni rupa berupa garis, bentuk, tekstur, ruang dan warna.

Merefleksikan

  1. Siswa mampu mengenali dan menceritakan fokus dari karya yang diciptakan atau dilihatnya (dari teman sekelas karya seni dari orang lain atau era atau budaya tertentu) serta pengalaman dan perasaannya mengenai karya tersebut

Berpikir dan Bekerja Artistik

  1. Siswa mulai terbiasa secara mandiri  menggunakan berbagai prosedur dasar sederhana untuk berkarya dengan aneka pilihan media yang tersedia di sekitar. 

  2. Siswa mengetahui, memahami dan mulai konsisten mengutamakan  faktor keselamatan dalam bekerja

Berdampak

  1. Siswa  mampu menciptakan karya sendiri yang sesuai dengan perasaan,minat atau konteks lingkungannya

2.

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)



  1. Memperkenalkan teknik perspektif dalam seni rupa 

  2. Mengajak peserta didik mengenal tetangga mereka 

  3. Melatih kepekaan sosial peserta didik di lingkungannya

3.

Tujuan Pembelajaran



  1. Setelah menyaksikan video dari youtube, siswa dapat mengenal lingkungan sosial dan fisik (arsitektur rumah) sekitar (tetangga) baik tradisional maupun modern dengan baik

  2. Melalui diskusi dan tanya jawab, siswa dapat memahami pentingnya saling menghormati perbedaan kondisi rumah tetangga dengan baik

  3. Setelah mengobservasi lingkungan rumah di sekitar tempat tinggal, siswa dapat memilih salah satu rumah yang paling dikenali dan dianggap paling menarik sebagai objek gambar/lukis 

  4. Dengan memilih kegiatan dan bentuk yang diinginkan, siswa dapat membuat gambar, mempresentasikan, atau menyajikan miniatur rumah tetangga yang telah dipilih berdasarkan prinsip seni rupa (sketsa, warna dan perspektif) secara sederhana

4.

Materi Pokok


  • Teknik perspektif dalam seni rupa

5.

Kegiatan Pembelajaran


A.  Kegiatan Awal (10 Menit)


  1. Guru mengkondisikan kelas dan melakukan absensi

  2. Peserta didik berdoa bersama sebelum memulai pelajaran 

  3. Guru melakukan persepsi 

  4. Peserta didik diminta menceritakan keadaan rumah di sekitar tempat tinggal mereka sesuai dengan tugas yang diminta guru pada minggu sebelumnya

  5. Guru memberikan pertanyaan pemantik terkait materi pelajaran.

  • Bagaimana kehidupan para tetanggamu? Apa saja pekerjaan, etnis dan agama mereka? 

  • Apa saja bentuk rumah-rumah mereka? 

  • Rumah siapa yang kalian sukai dan mengapa? 

  • Sudahkan kalian memilih salah satu rumah untuk digambar/dilukis?

  1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan jenis penilaian.


B. Kegiatan Inti (50 Menit)


  1. Siswa menyimak video tentang rumah tradisional dan modern yang ditayangkan di depan kelas melalui layar proyektor. Guru menyampaikan secara naratif (bercerita) tetang kehidupan para tetangga serta rumah-rumah mereka. 

  2. Guru dan siswa bertanya jawab tentang kondisi rumah tetangga di sekitar tempat tinggal dan cara saling menghormati perbedaan.

  3. Guru bercerita yang menggugah pikiran dan imajinasi siswa sekaligus mengenal sejarah lingkungan sosial mereka. Siswa juga diberi kesempatan untuk menceritakan keadaan rumah tetangga yang mereka kenali

  4. Siswa diarahkan memilih berdasarkan tetangga yang paling dikenal dan rumah yang disukai.

  5. Siswa mengerjakan salah satu tugas yang ia sukai berikut;

  1. Menggambar rumah dengan baik dan lengkap

  2. Menggambar rumah secara sederhana disertai teks narasi tentang model rumah tradisional/modern dan ciri-cirinya serta cara menghormati perbedaan

  3. Membuat sketsa rumah dan menempelkan batang korek api di atasnya 

  1. Guru memberikan penghargaan dan motivasi pada semua peserta didik


C. Kegiatan Penutup (10 Menit)


  1. Peserta didik bersama guru melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah berlangsung, 

  2. Guru memandu peserta didik menyimpulkan materi pembelajaran

  3. Guru memberikan penguatan terhadap materi yang telah dipelajari. 

  4. Peserta didik menyimak penjelasan guru tentang aktivitas pembelajaran pada pertemuan selanjutnya. 

  5. Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan doa bersama dipimpin oleh seorang peserta didik.

  6. Guru merencanakan tindak lanjut.



6.

Refleksi


Untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran, guru diharapkan melaksanakan refleksi kegiatan pembelajaran di kelas. 

  • Apakah siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik?

  • Apa saja kesulitan yang dialami selama proses pembelajaran? 

  • Apa saja langkah yang perlu dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran? 

  • Apakah ada siswa yang perlu mendapat perhatian khusus?



C.

Lampiran


Bahan Bacaan Guru dan Peserta Didik


Rubrik Penilan


Daftar Pustaka

Muhamad Faisol, Mufid Sam Indratma (2021). Buku Panduan Guru Seni Rupa untuk SD Kelas IV Kelas 4. Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.



Jakarta,       6 September  2022

Mengetahui:


Kepala Sekolah,

Guru kelas IV A,







Sri Suharyani, S.Pd.

Nur Jannah, S.Pd.



















































Tugas 2 Pelatihan Wawasn Kebangsaan

 Tugas 2 Pelatihan Wawasan Kebangsaan

Nama ; Nur Jannah

HP ; 0895331405712

Sekolah : SDN KALIBARU 03

Alamat : Jl. Kalibaru Timur rt 9/3 no. 2 

              Cilincing, Jakarta Utara


Situasi di sekolah saya tidak terlepas dari keadaan geografis yang berada di area pantai Cilincing yang masyarakatnya pada umumnya nelayan tradisional dan buruh nelayan yang kondisi ekonominya miskin - menengah. 


Penghasilan penduduk sangat tergantung dari keadaan laut. Dengan pendapatan pas-pasan ini sangat rentan kriminalitas. Banyak perjudian, tempat remang-remang, peredaran narkoba dan tawuran. 


Kesadaran bersekolah juga minim. Banyak anak usia SD yang putus sekolah. Sehingga memicu pernikahan dini. 


Tapi kesadaran beragama cukup baik. Toleransi masih terjaga. Saling menghormati meski berbeda keyakinan. Hal-hal yang mengancam ideologi negara tidak terdengar. Begitu juga dalam berpolitik praktis. 


Keadaan di dalam sekolah saya, pihak guru mengadakan pembiasaan sebelum pelaksanaan KBM. Arahan, nasihat, dan ceramah dari guru secara bergantian melalui piket di lapangan. 


Senin pagi upacara, selasa senam bersama, rabu kegiatan ekskul wajib Pramuka, Kamis literasi lapangan, dan Jumat Kebiasaan kultum dan solat duha serta membaca surat-surat pendek Alquran. 


Namun demikian, di sekolah saya masih sering terjadi bullying, bahasa percakapan yang kurang sopan, dan sopan santun yang kurang. 


Guru dan kepala sekolah selalu berusaha menanamkan hal-hal baik kepada siswa. Hanya saja anak sudah terkontaminasi oleh tayangan hiburan media sosial yang kadang kurang senonoh. 


Kami juga melatih anak murid jika ada lomba literasi, olahraga atau keagamaan. Sebagian wali murid sudah mau aktif bila ada undangan ke sekolah untuk mendiakusikan masalah anaknya.




Alat Peraga dari Karton, Media Sederhana Namun Mengena

  ALAT PERAGA DARI KARTON, MEDIA SEDERHANA NAMUN MENGENA

OLEH ; NUR JANNAH, S.Pd / SDN KALIBARU 03

PESERTA WIT 2020 ASAL DKI JAKARTA


Tahun ini saya mengajar di kelas 4 SD. Saya senang sekali karena akan ada Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) diberikan di kelas 4. Saya berharap sekali dapat bersama-sama murid untuk melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan. Saya akan meningkatkan literasi murid saya dari segi bahasa maupun numerasi. Saya membayangkan murid saya semakin maju, literasinya meningkat serta dapat belajar dengan penuh kesan. 


Namun pada kenyataannya saya seolah terempas dari langit ke tujuh dan kangsung nyungseb ke bumi. Semua bayangan indah sirna. Ketika memasuki materi matematika KPK dan FPB saja,  murid banyak yang bingung dan tak mampu mengikuti pelajaran. Saya pun bertanya mengapa. Ternyata mereka belum memahami konsep dasar pembagian. Pembelajaran non tatap muka menjadi kambing hitamnya. Murid saya kurang bersemangat di tahun lalu karena masih terkejut dengan adanya kondisi pandemic Covid 19.

Saya pun mencoba mencari jalan. Bagaimana cara mengajarkan murid saya untuk bisa memahami pelajaran meskipun dilaksanakan dengan moda pembelajaran jarak jauh? Maka saya mulai mencoba melakukan beberapa hal;

  1. Saya mencoba mengenali  murid saya dengan membuat peta empati.

  2. Saya membuat isian google form agar mereka lebih bebas mengungkapkan apa yang biasa mereka dengar, lihat, maui, dan inginkan. Serta apa yang biasanya menjadi kendala mereka dalam belajar, apa ketakutan mereka dan apa yang mereka khawatirkan.

  3. Dari situ saya merangkum ada 5 masalah besar yang harus segera dicarikan jalan keluar

  4. Dari 5 hal itu saya pilih lagi menjadi 3 yang paling urgen

  5. Dari 3 itu saya peras lagi sehingga saya dapatkan 1 masalah terbesar dan termendesak untuk segera dicari jalan keluarnya.


Ternyata mereka takut tidak bisa mengikuti pelajaran matematika di kelas oleh sebab pembelajaran non tatap muka ini. Mereka juga ingin media pembelajaran yang tidak melulu hanya video, karena dengan video itu sulit dimengerti dan juga susah sinyal serta memerlukan kuota yang banyak. Padahal orang tua sedang tak memiliki uang. Mereka juga takut kalau pelajaran matematika di kelas 5 dan 6 nantinya pasti akan jauh lebih sulit daripada di kelas 4.

Akhirnya saya membuat media yang membantu mereka untuk lebih memahami konsep dasar matematika. Kemudian saya membuat alat peraga yang terbuat dari stick dan cup es krim. Lalu saya cobakan. Namun sebelumnya saya cobakan dulu pada rekan guru dan anak-anak tetangga yang bukan kelas 4. 

Sebagian mengatakan, “Ah, seperti anak kecil!”

Ada juga yang bilang, “Nggak mau, nggak suka!”

Rekan guru ada yang berseru, “Loh, sekarang kan jamannya digital, buat dong alat peraga yang modern!”

Saya pun menjadi bimbang. Lalu saya bertanya pada rekan lainnya. Teman saya bilang jangan pedulikan ucapan orang lain. Media itu dibuat berdasarkan kebutuhan siswa. Bukan dilihat dari mewah atau canggihnya. 

Saya pun tersadar. Saya tak lagi mempedulikan cemoohan orang. Alat peraga tetap saya lanjutkan. Lalu saya ubah menjadi papan dadu berpasangan. Di sini saya menambahkan dadu agar nampak lebih menarik, dan juga papan yang terbuat dari kertas karton berwarna cerah.

Dan ketika saya cobakan pada siswa, hanya 15an siswa dari 33 siswa yang mampu memahami pembagian dengan alat peraga buatan saya. 

“Bingung bu saya dengan dadunya,” kata salah seorang murid.

“Bosan ah, Bu. Malas.”

Saya bingung. Haruskah saya buat lagi lebih sederhana?

Tadinya mau saya acuhkan saja siswa yang tidak berhasil ini. Namun saya diingatkan bahwa penciptaan media alat peraga sesungguhnya harus mampu menjangkau seluruh siswa. Artinya harus dapat digunakan oleh siapapun tanpa kecuali.

Maka saya mulai berpikir, “Harus diapakan lagi media ini?”

Lalu saya baru menyadari bahwa saya belum menyebarkan angket kepada para murid. Malam itu juga saya cetak angket dan saya fotokopi secukupnya. Esoknya saya bawa-bawa kembali alat peraga saya. Mendatangi murid-murid saya kelas 4, mendatangi rumahnya satu per satu. Ada juga yang berkumpul secara berkelompok kecil. Saya ujicobakan kembali alat peraga saya. Dan kali ini tak lupa meminta murid mengisi angket.

Nah, dari situlah saya dapat membaca, bagaimana dan apa yang dirasakan serta diinginkan oleh murid saya yang tertinggal itu. Alat peraga papan dadu pembagian saya finalkan. Yang tadinya harus dilakukan berpasangan, menjadi papan dadu pembagian biasa. Yang sangat sederhana.

Saya mendapat pengalaman yang sangat berharga, bahwa tidak masalah sesederhana apa alat peraga kita. Asalkan mampu mencapai tujuan pembelajaran, maka berarti media tersebut telah berhasil. Jangan terpengaruh ucapan orang lain yang meremehkan. Karena yang harus kita amati dan kita catat adalah pendapat murid kita sendiri sebagai sasaran, bukan orang lain.

Dan bahwa dalam pembuatan media belajar yang merdeka haruslah sesuai urut-urutan prosesnya. Jangan abai atau melupakan satu saja langkah yang telah diajarkan dalam pembuatan proses media belajar yang merdeka itu.  Semisal menyebarkan angket yang sempat saya lupa itu saking repotnya. Karena akibatnya akan fatal, dan kita tidak menemukan arah tujuan. 

Jadi, meskipun media saya hanya terbuat dari karton, stick dan cup es krim, namun siswa saya mampu memahami konsep dasar pembagian dengan baik. Dan sudah lancer serta tidak kebingungan lagi mengikuti pembelajaran matematika KPK dan FPB.


Jakarta, 20 November 2020