Label

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Februari 2016

TAKDIR

Tak ada yang bisa mendahului takdir Tuhan. Manusia tidak bertindak selalu atas kemauannya sendiri, namun kadangkala terpaksa oleh keadaan. Seperti aku dan suami yang terdampar di pedalaman kampung ini.

“Mas, ayo cari jalan pulang. Aku udah nggak tahan tinggal di sini.”

“Sabar, Sayang. Kita harus membantu orang-orang itu dulu.”

“Ah seminggu cukup sudah. Toh nanti ada tim khusus yang jadi relawan membantu angkat-angkat. Bukankah sudah biasa para tetangga saling menolong di kampung ini?"

"Iya, tapi kita nggak mungkin pulang duluan. Kita cari saja lagi kotak hitamnya.”

“Dimana sih kotak hitamnya?”

“Sabar … sabar…”

“Harus berapa lama lagi?”

“Sabar, ya?”

“Nggak bakalaan ada di sini, nggak akan ketemu, sudah kita pulang saja.”

Huh!

Akhirnya, setelah dua minggu menginap di rumah saudara ipar yang mengadakan perhelatan nikah ini, bisa juga kami kembali ke Jakarta.

Di sini, di daerah pinggiran Jakarta, rumahku ini, getuk hitam ditabur kelapa dan gula pasir adalah panganan yang sudah menjadi makanan langganan kami yang dijual Bik Inong setiap hari.

Oh, sedaaap.

Cilincing, 7 November 2015
MAS, CEPAT PULANG!


 
Pukul sepuluh malam. Hujan deras sejak sore. Suamiku belum pulang.

‘Ada rapat dadakan. Jam sepuluhan aku pulang.’ Tulisan di layar handphoneku.

Bik Inah yang sedang menyiapkan tas persalinanku tiba-tiba berteriak.

“Aaah …! I- itu, di jendela apaan, Neng?”

Sebuah bayangan hitam tinggi besar melotot ke arah kami. Ia menunjuk-nunjuk perutku. Hidung dan matanya tampak besar karena menempel di kaca.

“Aaah … Bibik … tolooong.”

“Neeeeng.”

Kami berpelukan

Bayangan di jendela itu semakin nampak jelas. Rambutnya acak-acakan. Giginya besar-besar. Mulutnya bergerak-gerak tapi tak terdengar suara apa-apa. Dia terus saja menunjuk-nunjuk ke arah perutku.

“Neng, Jangan-jangan itu hantu yang mau ambil bayi Neng.”

Aku gemetar. Sebisa-bisanya kami baca-baca. Bik Inah komat-kamit sambil melambai-lambaikan tangan mengusir makhluk itu.

“Hus! Hus! Pergi! Jangan ganggu anak bagong. “

Aku pun mengikuti gerakannya. Dengan tertatih-tatih kami menuju pintu keluar
Suasana di luar sepi sekali. Ada sebuah becak di sana. Dan seseorang menepuk pundakku

“Neng, ayuk Mamang anter ke bidan. Jang Krisnanya mau ambil uang dulu di ATM depan jalan. Bajunya kuyup. Dari tadi saya kasih isyarat tapi Neng malah ngusir-ngusir saya.”

Hah? Tak lama kulihat Mas Krisna masuk rumah sambil menenteng sepatunya.
Aduuuh, muleees.

END

 
Cilincing, 160415
SI GIMBAL

Tak pernah kusangka akan bertemu dan jatuh hati kepadanya. Seorang pria berkulit hitam, yang badannya besar dan berambut gimbal. Dia berasal dari Bojonegoro. Sebuah desa di  pegunungan Dieng.

“Dik, aku yang main gitar, adik yang baca puisi ya?”

“Baik, Mas.”

Lalu kami pun menghabiskan waktu dengan nembang dan membaca syair-syair.

Konon dahulunya di gunung Dieng bersemayam dua arwah yang saling mencintai. Namun keduanya tak mendapat restu dari orang tua, sehingga memutuskan untuk kawin lari. Lalu tinggal di gunung tersebut. Orang tua mereka mengutuk dan jadilah anak keturunan mereka memiliki rambut gimbal.

Rambut yang seperti ijuk, keras, kasar dan sulit dipangkas. Baik wanita maupun prianya memiliki rambut gimbal yang sangat panjang, karena sejak kecil tak berani mengguntingnya. Apabila berani, maka tak lama kemudian akan sakit, bahkan sampai menyebabkan kematian.

“Malam minggu depan Mas akan datang lagi. Nanti kapan-kapan Mas ajak acara ruwatan tahunan ya, Dik. Tunggu saja,” katanya sambil tersenyum.

Aku pun balas tersenyum mengantarnya dari balik pagar.

Tiba-tiba ibu sudah ada di sampingku.

“Pokoknya ibu tidak setuju dengan pilihanmu!” Suara ibuku sungguh membuat hatiku pecah.

Mas Gimbal yang kukenal selama ini sangatlah baik. Suaranya halus, tak pernah marah, dan selalu setia serta melindungiku ke mana saja pergi.

“Jangan begitu, Bu. Jangan menilai orang dari luarnya. Kan belum tentu luarnya kasar hatinya kasar juga?” bela bapakku. Aku masih bersukur karena bapak mau berpihak padaku.

“Ah pokoknya aku nggak suka. Jijik. Tidak pantas anak kita bersanding dengan lelaki berkulit hitam dan berambut seperti orang jarang mandi itu.”

Ah ibu nggak tahu. Mas Gimbal pandai bernyanyi dan membaca puisi. Sholatnya pun rajin.

“Nanti kalau ibu punya cucu, rambutnya akan gimbal seperti itu. Bagaimana bisa ibu sisiri dan hias dengan pita-pita atau bando? Nggak lucu,” ucap ibu masih sambil bersungut-sungut.

Aku tersenyum mengingat kejadian tujuh tahun silam. Bapak dan Ibu menyambut di pintu sambil menggandeng Chacha, putri sulung kami. Rambutnya yang gimbal kuurai dengan hiasan pita panjang.

"Ayo, Nak. Cium tangan Eyang," perintah Mas Gimbal kepadanya.


Cilincing, 150415 
ORANG-ORANG DALAM LUKISAN
Sebenarnya Aliya sudah mengantuk. Namun suara-suara dari dalam ruangan itu mengusiknya. Ruangan itu sangat besar. Ada delapan lukisan dengan pemandangan alam berbeda-beda. Di salah satunya, air bergemericik di antara rumah anggur berwarna ungu cerah. Sementara lukisan lain, keluarga kupu-kupu tidur di atas rumah bebungaan. Lukisan lain lagi, beberapa ilmuwan tengah berkumpul di dekat teropong besar.
Aliya mendekat, menempatkan sebelah matanya di ujung lensa. Orang-orang dalam lukisan itu tersentak.
“Aku menemukan sesuatu!“ teriak Profesor Kecaprut. “Kelihatannya di angkasa sedang terjadi gerakan kosmis penuh cahaya!” Sontak orang-orang berkerumun. Aliya memelototkan matanya.
“Wuaaa … aku melihat mata! Dapat kupastikan itu memang sebuah mata. Mata yang teramat besar!” seru Profesor Kubnut.
“Itu mata Tuhan!” tiba-tiba Profesor Dambledut berseru. “Tuhan yang telah melukis kita. Tuhan yang membuat kita ada, “ lanjutnya berapi-api.
“Mana mungkin! Kau selalu saja mengaitkan apapun yang ada di luar semesta kita dengan tuhan!” kesal Profesor Kecaprut. “Astronomi membuat kita semakin modern. Dan manusia modern seperti kita tidak boleh kembali ke masa primitif.”
“Tuhan dan dewa hanya isapan jempol pengganti ketidaktahuan dan ruang tak terbuktikan terhadap metafisika,” seru Profesor Cabadut.
“Itu benar. Saya setuju,” timpal Profesor Kubnut.” Sebagian orang membungkusnya dengan dogma-dogma dan aturan ritual yang hanya memuaskan elemen kebodohan. Padahal dengan teropong tercanggih ini, kita bisa membuktikan bahwa tuhan tidak ada. Semesta ada dengan sendirinya. Tanpa campur tangan siapa-siapa.”
“Ah, kalian, kita ciptakan teropong itu justru untuk membuktikan kemahabesaran-Nya,” keluh Dambledut.
“Hey, kau! Jangan sampai terulang kisah Profesor Gelael yang dulu pernah membuktikan bahwa lukisan tempat kita berdiam berbentuk segi empat. Tidak bundar seperti kitab-kitab buatan tangan mereka.”
“Sini kulihat lagi!” penasaran Prof Cabadut.
Aliya mengangkat wajah. Kini hidungnya yang ditempelkan.
“Itu bukan mata!” teriak Cabadut, “itu benda angkasa berbulu yang dipenuhi kawah-kawah komedo. Kuperkirakan usianya sudah jutaan tahun. Mungkin benda angkasa yang melayang abadi di udara!”
Para ilmuwan itu saling melempar teori.
“Hoaaahm ….” Aliya merasa semakin mengantuk. Ia bergerak mematikan lampu lalu meninggalkan ruangan.
“Baiklah, berakhir sudah. Cahaya kosmis  tiba-tiba   menghilang. Kita harus mengadakan penelitian lebih lanjut  benda angkasa yang lewat sekilas tadi. 
Esok, kita buat teropong yang lebih canggih lagi.”

Tamat
Cilincing, 17 Februari 2016
TUGAS

Hati Salwa berdegup kencang. Ia sibuk mencoret-coret di atas kertas. Matanya bolak-balik dari gambar yang sedang dibuatnya ke sesuatu di dinding. Benda itu terus berdetak.

Terlihat makanannya tak habis, dan seorang wanita tengah mengikat sesuatu di kakinya. Dengan risih Salwa menggeser posisi duduknya.

“Cepatlah, Salwa, cepat!” Suara di pintu terus mengingatkannya.
Dengan gemetar gadis itu menorehkan garis-garis hingga menyerupa bentuk.

“Cepat, Salwa, cepat!”

Iya, iya, rutuknya dalam hati. Kesal dengan suara berat yang berasal dari dekat pintu keluar.

Gadis beralis tebal dan hidung mancung itu memoleskan warna-warna pada gambar tersebut.

“Selesai,” keluh Salwa sambil mengusap peluh di dahinya. Dan ia memasukkan gambar itu dalam tas di sisinya.

Satu sosok lagi keluar dari kamar mandi. Rambutnya panjang.

“Tunggu! Mana gambar itu. Aku ingin melihatnya,” seru sosok tersebut sambil bibirnya melantunkan sebuah kidung. Meski tak jelas benar lagu apa yang disenandungkannya

“Gambar apa itu?”

“Pemandangan desa,” sahut Salwa acuh tak acuh.

“Mengapa mataharinya tidak bulat? Jadi serupa balon. Dan cemaranya mengapa merah bukan hijau?”

“Ah, nggak usah protes deh, Mbak. Aku terburu-buru nih, bukannya bantuin.”

“Besok-besok main saja terus, sampai lupa pe-er!” seru  mama yang sedari tadi mengikatkan tali sepatunya.

“Ya. Tonton saja tivi semalaman,” sahut ayah segera keluar menghidupkan motor untuk memboncengi Salwa. Salwa pun terburu-buru memakai topi dan dasi merah putihnya lalu pamit pada mama dan kakak.

END

Cilincing, 1 Mei 2015
MBAH RUKMO PINGIN UMROH
Mbah Rukmo sudah tua. Usianya mulai mengujung. Bahkan belakangan dia sering memimpikan istrinya. Mbah Rukmo kesepian semenjak istrinya wafat dua tahun yang lalu. Untungnya anak ke empatnya, Yuni, tinggal bareng dengan Mbah Rukmo setelah menikah dengan Kirno. Sedangkan tiga anak yang lain beserta mantu cucunya jarang berkunjung.
Wardana, anak pertama, di Surabaya. Dia sudah jadi pengusaha minyak sayur yang cukup sukses di sana. Miranti, anak ke dua, dibawa suami. Dia jarang datang, biasanya karena dilarang oleh suaminya itu. Yandi, anak ke tiga, tinggal bareng mertua karena istrinya anak tunggal.
“Ada apa, Bu? Kok sering datang? Apa mau menjemputku?” Lamunan Mbah Rukmo.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan mainan.
“Treet…tree…treeet….Dor!” teriak Denis, anak Yuni.
“Aaaa…..,” Mbah Rukmo terkulai lemas mati. Pura-pura.
“Ha…ha…ha…aku menang…aku menang…,” seru Denis kegirangan.
Tiba-tiba Mbah Rukmo bangun. Dengan serta merta pria tua itu memeluk Denis. Diciumi cucunya satu itu.
“Aduh, Cah Bagus, ngageti Mbah,” Mbah Rukmo tertawa terkekeh-kekeh. Teringat cucunya yang lain. Gimana cucu-cucuku yang di sana ya? Aku kangen. Kapan bias ngeliat mereka lagi. Paling-paling nanti pas lebaran. Mbah Rukmo membatin. Apa lebaran ini aku masih bisa kumpul sama anak cucuku semua? Rasanya aku hampir menyerah pada usia yang tambah renta ini. Tapi sebelum usia benar-benar purna, aku ingin sekali mengunjungi ka’bah. Menyempurnakan agama. Agar tunai rukun Islamku. Tapi biaya dari mana? Pergi haji kan mahal sekali.
“Umroh saja dulu, Mbah,” kata Kirno. Panggilannya membiasakan Denis menyebut Mbah. “Murah. Cuma delapan belas juta. Nggak pake daftar segala lagi Mbah,” lanjutnya.
“Oh ya?” Mbah Rukmo semangat.
“Iya. Delapan Belas juta langsung berangkat.”
“Delapan belas juta?”
“Iya Mbah.”
 Mbah Rukmo membayangkan dari mana dapat uang delapan belas juta. Aku punya rumah yang sekarang aku tempati. Tapi kalau ini dijual, di mana Yuni dan keluarganya tinggal? Mana mungkin mereka bisa membayar kontrakan bulanan yang mahal-mahal. Lagian ntar aku juga tinggal di mana? Bisa umroh tapi tinggal di kolong jembatan. Walah!
Mbah Rukmo menghayalkan keempat anaknya urunan. Delapan belas juta kalau aku bagi berempat sekitar lima jutaan. Ah, apa mereka bisa dan mau urunan? Tak apalah, akan aku coba minta. Sekaligus aku ingin melihat anak yang mana yang paling peduli padaku.
Sesudah sholat isya dan mengaji, malam itu Mbah Rukmo memanggil Yuni dan Kirno.
“Yun, Bapak pingin sekali umroh,….” Mbah Rukmo menggantung kalimatnya. Melihat reaksi kedua anak mantunya.
“Kata suamimu, biayanya delapan belas juta.” Kirno manggut-manggut separuh ngantuk. Kayaknya sudah capek tadi siang manggul barang di pasar banyak sekali.
“Anak Bapak ada empat. Bapak minta tiap anak nyumbang lima juta,” lanjut Mbah Rukmo.
Kali ini Kirno membelalak. Tiba-tiba ngantuknya hilang. Yuni memandang ke arah suaminya. Sebelum keduanya menjawab apa-apa Mbah Rukmo minta Kirno menuliskan pesan sms.
“Assalamu alaikum, Bapak pingin umroh. Minta sumbangannya lima juta. Sukur-sukur kalau lebih. Ditunggu balasannya besok pagi jam delapan.” Tiga kali sms yang sama terkirim ke nomor yang berbeda.
“Sudah, No?”
“Sudah, Mbah,” jawab Kirno.
Sesudah itu Mbah Rukmo berangkat tidur dengan sesungging senyum di bibir. Tinggal tunggu bagaimana jawaban anak-anaknya besok. Perlahan ia mulai memejamkan mata sambil bergumam, “Labbaikallah humma labbaik…” Mbah Rukmo tertidur pulas.
Mbah Rukmo tidak mendengar pembicaraan Yuni dan Kirno malam itu.
“Mas, dari mana kita bisa menyumbang Bapak?” suara Yuni.
“Aku juga belum tahu, Yun. Mana mungkin mendapat lima juta dalam waktu singkat. Pendapatanku kan cuma cukup untuk masak harian saja,” suara Kirno.
“Apa bisa pinjam dari temanmu barangkali, Mas?” usul Yuni.
“Halah, teman-temanku ya kayak aku. Sama-sama buruh. Podho kerene,” sahut Kirno mengetuk-ngetuk jidatnya sendiri.
“Ya, jadi gimana ya? Dari mana?” Yuni mulali linglung.
“Padahal kakakmu yang di Surabaya kan orang kaya. Pengusaha,” Kirno berusaha mengingatkan Yuni. “Harusnya dia aja yang nanggung seluruh biaya umroh Bapak.”
“Ah, aku ragu. Mas Wardana kan jahat. Sering membenci Bapak. Dulu saja pernah diutang untuk pernikahan kita malah ngamuk-ngamuk. Katanya kita yang mau kawin kok dia yang harus keluar uang. Huh, mas macam apa dia.” Yuni mendengus.
“Iya, terlalu. Tapi kita juga sih yang salah. Kurang persiapan,” aku Kirno.
“Kita?  Kamu saja barangkali,” protes Yuni. “Kan kamu yang laki-laki.”
“Lah kamu juga salah,” Kirno berusaha berkelit. “Dah tau aku cuma buruh, kenapa mau sama aku?”
Mendengar jawaban suaminya Yuni jadi manyun. Kirno memegang pundak Yuni, berusaha menenangkannya.
“Gini aja Yun Cay, Yuni Cayang. Aku juga mampet. Kita doakan saja ya, Mas Wardana mau nolong Bapak. Niat Bapak kan baik. Allah pasti mengabulkan.” Ucapan dan sentuhan lembut Kirno itu memang sedikit melegakan hati Yuni. Manyunnya hilang,
“Ya sudah, kita tunggu dulu balasan sms dari yang lainnya ya, Mas.”
“He eh.”
^^^^^^
Lit tulat tulit tulat tulit…..sms masuk pertama. Dari Ranti.
“Assalamu alaikum, Pak. Semoga Bapak sehat saja. Ranti menangis baca sms Bapak. Ranti kan nggak kerja Yang punya gajian Mas Komar. Ranti belum berani bilang hari ini. Mungkin nanti malam, Pak.  Nanti Ranti kabari lagi.”
Kirno membacakan.
Lit tulat tulit tulat tulit….sms ke dua. Dari Yandi.
“Assalamu alaikum, Pak. Alhamdulillah Bapak mau umroh. Aku seneng banget dengernya. Mudah-mudahan terlaksana. Aku pasti bantu tapi nggak sekarang, Pak. Tunggu sekitar beberapa bulan lagi. Yang pegang keuangan kan istriku.”
Ketiga orang yang sedang mengerumuni hape itu saling berpandangan.
Lit tulat tulit tulat tulit…sms ke tiga. Pasti dari Mas Wardana. Sebentar ketiganya menghela napas dalam-dalam bersamaan. Seolah yang akan dibacanya ini yang paling penting dari semua. Semoga saja doa Yuni dan Kirno semalam terkabul.
“Kenapa Bapak mau umroh?” Kirno berhenti sejenak membaca sms. Dilihatnya Mbah Rukmo dan Yuni bergantian.
“Lanjutkan,” perintah Mbah Rukmo mengernyitkan alis.
“Yang wajib rukun Islam itu adalah ibadah haji. Itu juga kalau mampu. Kalau tidak ya tidak dipaksakan.” Kirno berhenti lagi.
“Apa Mas? Teruskan,” Yuni mulai geram.
“Umroh itu buat orang-orang yang sudah berangkat haji yang pingin ke Mekkah lagi. Kalau belum haji ya berhaji dulu. Kalau belum mampu ya tidak usah dulu. Nggak perlu umroh dulu.” suara Kirno makin pelan.
“Masih ada lagi, No?” tanya Mbah Rukmo menahan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.
Kirno tak berani meneruskan tapi Mbah Rukmo memaksa.
“… E …Kenapa Bapak e…. salah kaprah…..?” suara Kirno menghilang. Benar-benar sudah tidak bisa bernapas lagi. Ia melihat Yuni sudah mencak-mencak nggak karuan.
“Kurang ajar. Dasar anak tak tahu diri. Sudah kubilang dia tidak akan mau menyumbang. Boro-boro untk umroh, untuk makan harian Bapak aja nggak pernah ngirimin.”
Lit tulat tulit tulat tulit…sms lagi. Dari siapa lagi? Bukannya semua anak sudah?
“Aku di sini banyak kebutuhan. Biaya sekolah anak-anakku. Juga lesnya. Cicilan mobil, rumah. Belum belanja istriku bulanan. Pabrikku cuma satu. Aku juga ada karyawan yang harus kuperhatikan,”
 Lit tulat tul;it tulat tulit….
”Pokoknya aku nggak bisa bantu.”
Hati Mbah Rukmo seperti dipukuli palu berkali-kali.
“Sudah. Sudah’” Mbah Rukmo menutup pertemuan.
Ketiganya beranjak ke tempat tidur masing-masing. Sebelum tidur Mbah Rukmo berbisik. “Bu, Beginilah aku tanpamu.” Mbah Rukmo tertidur sambil menangis seiring gumamannya, “Labbaikalla humma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik ….”
Keesokan paginya Mbah Rukmo sibuk dengan kayu, triplek, paku, martil, gergaji, dan lain-lain.
Tak…tok…tak…tok!
Srek…srek…srek!
Denis ingin tahu, “Buat apa Mbah?”
Mbah Rukmo hanya tersenyum.
“Aku yang maku ya, Mbah?”
“Jangan, Sayang. Nanti kena tangan.”
“Aku pegangin aja deh, Mbah?”
Mbah Rukmo mencium Denis, “Minta mama spidol permanen ya, Cah Ganteng?”
Denis berlari mencari mamanya. Jadilah sebuah kotak berukuram 10x20x30 cm. Di tengah atas nya dibuat lubang memanjang sekitar 4 cm. Salah satu sisinya diberi engsel supaya mudah dibuka tutup.  Dan di depannya diberi gembok.
“Kok kayak celengan, Pak?’ Yuni menyodorka spidol.
Mbah Rukmo tersenyum saja. Diambilnya spidol lalu dituliskan di bagian depan dengan huruf besar.
“KOTAK UMROH”
“Kotak umroh? tanya Yuni.
“He-em. Delapan belas juta dibagi setahun satu juta setengah,” Mbah Rukmo mulai menjelaskan. “Satu juta setengah dibagi empat minggu jadi tiga ratus lima puluh ribu. Lima puluh ribu dibagi tujuh hari lima puluh ribu sehari. Bismillah saja, Ning,” jelas Mbah Rukmo.
Yuni terdiam.
“Nanti kalau punya uang bantu masukkan setiap hari berapa saja ya Ning?” pinta Mbah Rukmo tersenyum. Yuni mangangguk.
“Belum nanti dikasih sama Ranti sama Yandi. Mudah-mudahan nggak sampe setahun udah bisa terkumpul delapan belas juta.” Yuni mengaminkan ucapan ayahnya.
“Taruh di sana, Ning, di dalam buffet dekat Al-Qur’an.”
Yuni mengerjakan apa yang disuruh ayahnya.
^^^^
Setiap malam sebelum tidur, Mbah memegang kotaknya.
“Mana kotaknya, Ning?’ pinta Mbah Rukmo pada Yuni. Segera diraihnya kotak umroh dari tangan anaknya. Didekapnya erat-erat. Lalu mulai bibirnya menggumam.
”Labbaikallohumma labbaik…” Mbah Rukmo tertidur pulas.
Diam-diam Yuni dan Kirno menghubungi Ranti dan Yandi. Disepakatilah mereka bertiga yang akan menanggung biaya umroh Bapak. Kirno meminjam dari Koperasi Pasar enam juta. Mulanya pihak koperasi kurang yakin tapi Yuni dan Kirno menjelaskan untuk apa keperluan uang tersebut. Akhirnya kepala Koperasi Pasar tersentuh dan menyetujuinya. Sedang Ranti ikut arisan minta nomor dekat. Enam juta nanti akan dibayar dari sisa belanja harian yang diberi suaminya. Sementara Yandi meminjam pada istrinya setelah lima kali.
Delapan belas juta sudah terkumpul. Bukan main girang Mbah Rukmo. Mbah Rukmo bisa berangkat umroh.
^^^^^^^
Tanah Haram Mekkah. Mbah Rukmo memasuki gerbang masjidil Haram.
“Ya Allah, Alhamdulillah kau izinkan aku bersimpuh di rumah-Mu.”
Delapan hari Mbah Rukmo memuas-muaskan diri ibadah, zikir dan doa. Suatu hari selesai melaksanakan seluruh untaian ibadah di Tanah Haram itu, suatu pagi sesudah sholat sunnah, Mbah Rukmo duduk di dekat makam Nabi di Raudah. Dia mendoakan semua kebaikan demi dirinya, istrinya, anak dan cucunya Tiba-tiba dilihatnya Wardana di hadapannya sedang ditarik oleh cahaya putih ke atas sambil berteriak memanggil.
“Bapak …. Bapak …. Bapak .…” teriakannya begitu memilukan sampai-sampai dada Mbah Rukmo sesak. Teriakannya semakin terdengar pedih dan perih sekali.
“Ya Allah, ada apa dengan anakku, Wardana. Selamatkanlah ia Ya Allah. Selamatkanlah .…”
Dalam keadaan bingung ia pulang ke maktab dan segera menelepon Yuni.
“Ya Pak. Mas Wardana kecelakaan, Pak. Dia dari tadi memanggil-manggil nama Bapak terus. Doakan, Pak.”
Jleb!!! Mbah Rukmo menangis.
“Ya Allah pertemukan aku dengan anakku. Selamatkanlah ia. Aku tak pernah marah padanya. Beri kesempatan kepadanya menjadi manusia yang lebih alim dan abid kepada-Mu Ya allah.” Esoknya selesai ibadah umroh Mbah Rukmo langsung menuju rumah sakit. Enam jam Wardana melewati masa kritisnya. Dan ia menangis keras-keras dalam pelukan Mbah Rukmo.
Tamat
TAKDIR SEBUAH HARAPAN 
Berharap. Setiap orang pasti punya harapan. Tapi tidak aku. Sudah lama aku tak mau lagi  berharap. Percuma. Harapan itu ibarat udara di ujung sedotan saat terkurung dalam sumur kegelapan. Aku bisa menghirupnya tapi tak dapat hidup lama dengannya. Harapan adalah tipuan.
Dan Danu, kau pria tertampan pertama yang kukenal. Aku mencintaimu setulus hati. Bahkan namamu serupa dengan angin yang terus bergerak mengikutiku.
“Dan, kapan kau mau menikahiku?”
Kau terdiam. Hanya duduk di salah satu besi itu. Mulai mengayunkan kaki, lalu bergerak maju mundur.
“Entahlah. Aku tak tahu.”
Kau payah, Dan. Selalu itu saja jawabanmu. Bahkan kematiannya tak lantas membuatmu mengerlingku. Mengapa kau tak mau melupakannya? Dan lihat perutku. Aku berharap kita beriringan di depan altar. Mengenakan warna kontras hitam putih dan melempar buket ke arah para jejaka dan gadis di sana.
“Dan, sampai kapan kita begini?”
Kau tertunduk.
Tubuh masih kau sandarkan di atas kursi besi bertali itu. Kau sama persis dengan ayunan itu, Dan. Hanya bergerak maju mundur tak pernah sampai ke satu titik tertentu. Kau tak pernah bisa memberi keputusan apa-apa.
Aku mulai bosan. Andai aku pergi Dan, kau tentu akan tinggal di tempat. Menunggu orang lain datang memontang-pantingkanmu ke sana ke mari saja.
Baiklah, aku pergi saja sekarang.
Tapi tidak, Dan. Ternyata waktu tak sanggup memberanguskanmu.
Aku masih terkungkung dalam lamunan, barangkali saja Tuhan mau mengabulkan doaku. Kulantunkan munajat di setiap sepertiga malam. Kutulis harapan itu pada sepotong kertas, kumasukkan dalam botol, kulempar sejauh bisa ke arah laut sana. Berharap suatu saat bila ada yang menemukannya ia akan mengadukannya pada langit.
Kutulis lagi. Kuletakkan di bawah bantal. Berharap kau melamarku dalam tidur. Tapi itu tak pernah terwujud.
Kemudian surat itu kutitipkan pada pria-pria salih. Di gereja-gereja, wihara-wihara dan masjid-masjid, agar Tuhan mau membaca harapanku. Tapi sekian waktu kau masih saja ambigu. Tak ada apa-apa di sana, Dan. Tak ada tubuh ringkih yang pernah kau puja dulu.
Aku marah. Kesal. Tak mau lagi berharap. Dan tak mau menginginkan apa-apa lagi. Hingga suatu hari putrimu menarik tanganku, menuntun pada sebuah pusara.
“Mama, sudah dua puluh tahun. Relakan ….”
Tamat
Jakarta, 2 Pebruari 2016

Jumat, 05 Februari 2016

RAHASIA DI BALIK HUJAN


Musim penghujan datang. Betapa hari berjalan cepat sekali di telapak kaki wanita itu. Dulu, mungkin ia akan berlarian di bawah tetesnya. Merentangkan kedua tangan. Memejam mata sambil membuka mulut menghadap langit. Tapi tidak sekarang, usia telah menyepuh rambutnya hingga benderang.

***

“Kiyah, bangun, Nak. Hari ini kita akan pesta besar.“

Anak perempuan yang datang bulan saja belum itu duduk di tepi ranjang. Sejenak mengucak-ucak mata.
Lalu memandang wajah Simbok.

“Pesta? Rame-rame, Mbok?”

“Iya. Kamu mau pake baju bagus ndak? Pake bedak, gincu …,”

“Gincu, Mbok?” Matanya membulat. “Yang bikin bibir merah? Mau, mau,” ujarnya girang lantas berlari ke kamar mandi.
 
Rukiyah dipakaikan baju putih. Kebaya dan kain yang sering dilihatnya dipakai ibu-ibu di kampung saat ada perhelatan besar.

Dia tersenyum-senyum sendiri. Namun bingung, mengapa Simbok meyuruhnya duduk di samping laki-laki muda yang juga berdandan seperti bapak-bapak. Pipinya bersemu merah saat difoto bersama para tetamu. Lagi-lagi hatinya merasa aneh karena laki-laki berjas di sampingnya selalu ikut dalam foto tersebut.

“Mbok, kapan selesai, aku mau main congkelak sama Asih?”

Mboknya menyuruh diam.

Menjelang maghrib, musik dihentikan. Kursi-kursi mulai dibenahi.
Rukiyah dibolehkan mandi dan berganti pakaian. Sehabis mandi, ia masuk ke kamarnya dan kaget melihat kamarnya lain sekali dengan tadi pagi. Bagus, rapi dan wangi. Tiba-tiba pintunya diketuk simbok.
Seraut wajah pria menyembul di samping beliau. Rukiyah buru-buru menahan pintu.

“Ada apa toh, Mbok?” pandangnya penuh selidik.

“Cium tangan Masmu!” perintahnya.
 
Rukiyah diam saja. Ia baru mau menggerakkan tangan setelah ibunya sedikit marah. Setelah itu ibu keluar.
Rukiyah mengambil bantal dan menyerahkannya. Laki-laki itu menurut saja ketika disuruh tidur di lantai.

Setiap malam Permadi tidur di bawah. Hanya sesekali menikmati empuknya kasur. Yaitu saat istrinya berada di luar rumah sore hari. Mungkin ke rumah Asih untuk main lompat tali atau bola bekel.

Lalu teruntailah rahasia itu. Awal musim penghujan. Senja hari hujan sangat besar. Rukiyah tak bisa tidur. Permadi minta tolong untuk membaginya sedikit ruang di atas ranjang.

“Lantai dingin sekali,” katanya.

Malam itu menyimpan rahasia Rukiyah dan Permadi yang telah memiliki tujuh anak dan sebelas cucu kini.
Kamu sudah tahu rahasia itu kan?

TAMAT
Cilincing, 27 Januari 2016

Minggu, 31 Januari 2016

Antara Dua Hati

ANTARA DUA HATI

(Cerpen ini dimuat dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Senyum Bidadari, 2015, bersama kawan-kawan di LovRinz and Friends)

“Jangan sakiti diri sendiri, Hanum.” Tangannya lembut mengusap bulir yang mengalir dari kedua bola mataku.

“Ini yang sangat kusesalkan. Kita tak pernah tahu takdir Allah atas diri kita bukan?” katanya lagi menatapku dalam-dalam.

“Aku takut, Mas. Aku tak ingin melihat Mas dan keluarga porak karena aku,” kataku meyakinkannya, juga diri sendiri.

“Mengapa harus porak? Belum tentu.”

“Tapi, tadi siang, Mas ….”

“Kita tidak bisa mendahului takdir,” sahutnya cepat menahan gerak bibirku dengan jemarinya.

Ya Allah. Takdir. Apakah kesediaanku menerima pinangan Mas Ikmal dua bulan lalu itu takdir? Dan rela menjadi istri kedua, itu juga Allah yang mengatur? Apakah nantinya anak istrinya pergi meninggalkannya dan membenciku secara abadi itu pun takdir? Apakah aku masih bisa dikatakan memegang ukhuwah Islam? Ah, entahlah.

“Siapa yang mengira kita bisa berjumpa dan berjodoh seperti ini? Bukankah Allah juga yang mengaturnya?” tanyanya. Suaranya halus sekali.

Dadaku bergemuruh. Entahlah. Tadi siang istri pertama Mas Ikmal datang. Ia mengatakan banyak hal. Tentang perhatian Mas Ikmal yang tebagi. Juga masalah keuangan. Dan yang terutama, tentang aku yang dikatakannya sudah memberi sekat antara Mas Ikmal dengan kedua putri mereka.

“Entahlah, Mas. Aku tidak mau menyakiti hati wanita-wanitamu. Kita sudahi saja pernikahan ini.” Dengan susah payah kuucapkan kalimat itu.

Lalu aku berlari keluar. Memandangi langit yang mulai menyapa malam. Tak kuhiraukan Mas Ikmal yang tengah menanti di dalam kamar dengan al-qur'an di tangan.Hatiku masih risau.

Kuingat kembali kejadian tadi siang.

“Haaah, namamu saja yang bagus. Tampak dari luar indah dan anggun. Tapi perilakumu seperti orang tak berpendidikan.” Mbak Rana tiba-tiba datang sambil mengeluarkan kata sekasar itu.

“Masya Allah, Mbak. Mengapa Mbak berkata seperti itu?” tanyaku tidak mengerti. Bukankah selama ini ia sudah tahu pernikahan kami.

“Ah, sudahlah. Kamu pura-pura tidak tahu ya? Pura-pura bodoh. Di mana letak gelar kesarjanaanmu. Mengapa mau menerima pinangan lelaki beristri!” teriak Mbak Rana.

“Mbak, aku … ak-aku …,” ucapanku tersekat.

“Kamu apa? Kamu perebut suami orang, tahu!”

Aku hanya menunduk mendengar semua kata-katanya. Ini memang pernikahan kedua Mas Ikmal denganku yang baru berjalan beberapa bulan, tapi Mbak Rana baru pertama kali marah. Mungkin sebelumnya hanya dipendam. Aku baru menyadarinya. Dan sekarang kupikir aku harus menyudahinya.

Kutengadahkan kepala ke arah langit. Kuperhatikan cahaya bulan. Mengapa malam ini cahayanya bundar? Aku baru tersadar kalau sekarang pertengahan bulan. Dan tanpa kusadari pula, suamiku sudah berada di sisi.

“Melihat apa?” tanyanya dengan senyum khasnya.

Ya Allah, kuatkanlah hatiku. Kutepis uluran tangannya yang hendak meraih pinggangku.

Ia mengambil kursi dan meletakkannya tepat di hadapanku.

“Mari, sini!”

Sejenak aku ragu. Namun akhirnya kuturuti juga perintahnya.

“Kamu lihat cahaya bulan itu?” tanyanya. Dengan malas aku mengangguk.

“Apa menurutmu bulan memancarkan sendiri cahayanya?” selidiknya ke arah mataku yang sedari tadi kutundukkan.

Aku jadi jengah dengan tatapannya. Aku tak terbiasa bersitatap langsung dengannya. Maka kupalingkan wajah ke arah tanaman tekiku yang mulai meninggi.

“Dengar, Sayang. Seluruh alam ciptaan Allah bertasbih dan tunduk pada perintah-Nya. Begitu pula manusia, hewan, bintang, bulan, dan juga matahari,” katanya.

“Kamu tahu tidak kalau matahari saat malam pun bersinar?”

Pertanyaannya kali ini membuatku mendongak. Mana ada cahaya matahari malam-malam? Yang ada juga bulan. Itu, seperti di atas, yang kini tengah bundar dan menerangi semua yang berada di bawahnya, termasuk kami.

Aku menggeleng keras-keras. Ia menjawil ujung hidungku. Dan aku harus pura-pura marah karenanya.

“Kamu gimana sih? Lupa dengan pelajaran ilmu alam? Bulan kan nggak bercahaya sendiri. Ia hanya memantulkan sinar matahari. Sesungguhnya matahari tidak tenggelam saat malam. Ia tetap bersinar. Hanya saja sinarnya dititip lewat pantulan rembulan. Agar pada saat bekerja di bagian bumi yang lain, ia tetap bisa menerangi bagian bumi yang tengah ditinggalkannya.”

Ah, bodohnya aku ini. Tentu saja yang dikatakannya tentang pantulan sinar bulan itu benar. Mengapa aku lupa dengan pelajaran sekolah dasar ini. Mungkin terlalu hanyut dengan perasaanku seharian ini.

Tapi diam-diam otakku menelaah. Apa maksud Mas Ikmal dengan ucapannya? Apakah ia menganalogikan dirinya dengan matahari?

“Jadi …, Mas …?” tanyaku ragu-ragu.

Ia mengangguk

“Ya,” jawabnya tenang dan tegas.

"Akulah matahari. Akulah imam untuk kalian berdua. Izinkan aku bergulir pada siang dan malam. Selama berada di jalan Allah, kalian harus mentaatiku."

Kupandangi wajahnya yang terus tersenyum.

"Sebelum ke mari, aku sudah menyelesaikan permasalahan dengan Rana. Ia hanya agak kesal karena sedari pagi aku acuhkan. Padahal itu sengaja. Karena semalam ia tak menyelesaikan hafalan qur'annya," terang Mas Ikmal.

"Konsekwensi yang sama buatmu jika melanggar kepemimpinanku.” Aku menunduk mendengar penuturannya.

Mas Ikmal mengeluarkan handphonenya.

“Assalamu alaikum, Ummi. Anak-anak sudah sholat Isya semua dengan Ummi?” tanyanya memulai percakapan dengan Mbak Rana.

Dan aku tak mendengar percakapan selanjutnya, sebab kini aku memasuki kamar. Bersiap mengaji beberapa surah bersama sebelum tidur serta mendengarkan ta'lim harian dari suamiku.

The End. Cilincing, 15 Maret 2015