Lelaki Rembulanku
engkau lelaki rembulan
pemilik rindu paling kelam
aku daunan layu
jatuh sinarmu di atas aku
masihkah angin semilir bayu
sedang tangkai tak lagi ayu
aku tertatih
merangkak
merayap
mengendap
bedilku hangus,
jendralku habis dengus
seragam robek sana-sini
darah mengering kucur
namun aku belum ingin kembali
meski di sini telah habis amunisi
bak tentara di tengah perang
masih hendak berjuang
Cilincing, November 2015
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Senin, 22 Februari 2016
Sabtu, 20 Februari 2016
Mewarnai Cintamu
Di langitku yang jingga
nampak pelangi dua warna,
hitam putih saja,
dan itu rambutmu Kanda.
Maka iznkanlah kusesap,
di awanku yang mulai pengap,
agar mentari tak lagi memucat
di ujung takdirku yang pekat
Namun mengapa laut membayang
perahumu terkilau gelombang
mengombak diayun gamang
dan itu hatimu Sayang..
Tak fahamkah kau
bumiku mulai menghijau
disubur mawar melati
itu aksaramu kasih
Usah tunggu dermagaku membiru
diletih temali kekang ambigu
meski buritanku tetap memerah jambu
malu-malu merinduimu
Cilincing, Agustus 2016
Di langitku yang jingga
nampak pelangi dua warna,
hitam putih saja,
dan itu rambutmu Kanda.
Maka iznkanlah kusesap,
di awanku yang mulai pengap,
agar mentari tak lagi memucat
di ujung takdirku yang pekat
Namun mengapa laut membayang
perahumu terkilau gelombang
mengombak diayun gamang
dan itu hatimu Sayang..
Tak fahamkah kau
bumiku mulai menghijau
disubur mawar melati
itu aksaramu kasih
Usah tunggu dermagaku membiru
diletih temali kekang ambigu
meski buritanku tetap memerah jambu
malu-malu merinduimu
Cilincing, Agustus 2016
Kepam Rindu
Aku hanya bocah
Bermodal polos tanpa prasangka
Begitu riang senyum terpana
Pada wajah ibu yang kuimpi lama
Ayah datang bersamamu, 'Ibu'
Senyum manis janjikan rona biru
Namun tak perlu waktu lama
Seringai menguar mengganti tawa
Di lembah benci kau lepas tangan
Hati ini terus menggelebah legam
Hanya sepi temani hari
Pagi senja kumenyendiri
Cilincing, Agustus 2015
Aku hanya bocah
Bermodal polos tanpa prasangka
Begitu riang senyum terpana
Pada wajah ibu yang kuimpi lama
Ayah datang bersamamu, 'Ibu'
Senyum manis janjikan rona biru
Namun tak perlu waktu lama
Seringai menguar mengganti tawa
Di lembah benci kau lepas tangan
Hati ini terus menggelebah legam
Hanya sepi temani hari
Pagi senja kumenyendiri
Cilincing, Agustus 2015
Hujan Tadi Sore
tadi sore
hujan turun pertama
setelah berbulan-bulan
kota dipanggang matahari
sebabi asap mata buta
kepuli hutan sekian airmata
dan ranting-ranting kering
sekering doa-doa
lantunan bibir-bibir
patah hati
oksigen hilang
tak berani menatap pagi
di provinsi tetangga kami
bayi-bayi mati
daun tak suplai hidup lagi
berita televisi hari-hari
semburan air hanya mengalir di pipi
ispa tak kenan beri hirup
hujan sore ini berbalik ke langit
hari beranjak menua lebat
kini
negara langkah gontai
terpimpinkan anaknya
yang tak mengacuh rakyatnya
ternyata
Tuhan harus turun tangan jua
Cilincing, 7 November 2015
tadi sore
hujan turun pertama
setelah berbulan-bulan
kota dipanggang matahari
sebabi asap mata buta
kepuli hutan sekian airmata
dan ranting-ranting kering
sekering doa-doa
lantunan bibir-bibir
patah hati
oksigen hilang
tak berani menatap pagi
di provinsi tetangga kami
bayi-bayi mati
daun tak suplai hidup lagi
berita televisi hari-hari
semburan air hanya mengalir di pipi
ispa tak kenan beri hirup
hujan sore ini berbalik ke langit
hari beranjak menua lebat
kini
negara langkah gontai
terpimpinkan anaknya
yang tak mengacuh rakyatnya
ternyata
Tuhan harus turun tangan jua
Cilincing, 7 November 2015
Ayahku dan Setangkup Roti
sering kuterenyuh
memandangnya duduk bersimpuh
mengipasi nasib penuh peluh
topi kesabaran yang lusuh
badan legam merenta
membahu beban tiada habis
pandang sepatu menganga
iring langkah setua usia
ayah sering bercerita
tentang setangkup roti
dengan selai dan olesan mentega
harumnya di atas panggang sungguh menggoda
namun ia tak jadi membeli
demi aku di akademi
hingga gelar purna
kini roti kubeli dengan gaji pertama
tapi ia sudah tak dapat melihat
terguguk lesu di samping jasad
dan roti bakar ini masih saja hangat
sehangat mataku yang sembab
hanya tiang doa mampu kupanjat
semoga ayah bahagia di tempat layak
kubungkus roti dengan dada sesak
pahlawan berpulang tanpa kecap
Cilincing, 28 Juli 2015
memandangnya duduk bersimpuh
mengipasi nasib penuh peluh
topi kesabaran yang lusuh
badan legam merenta
membahu beban tiada habis
pandang sepatu menganga
iring langkah setua usia
ayah sering bercerita
tentang setangkup roti
dengan selai dan olesan mentega
harumnya di atas panggang sungguh menggoda
namun ia tak jadi membeli
demi aku di akademi
hingga gelar purna
kini roti kubeli dengan gaji pertama
tapi ia sudah tak dapat melihat
terguguk lesu di samping jasad
dan roti bakar ini masih saja hangat
sehangat mataku yang sembab
hanya tiang doa mampu kupanjat
semoga ayah bahagia di tempat layak
kubungkus roti dengan dada sesak
pahlawan berpulang tanpa kecap
Cilincing, 28 Juli 2015
Bayang-bayang Perobek Hati
Hati
Berapa kali kau kubisiki
Tentang kepam yang menoreh diri
Membuat lebam matahari
Kini
Curahan sayang telah pergi
Bersama dayu yang ia cintai
Tapi mengapa kau tak sadar meski sekali?
Jangan diam melihatku menangisi
Setiap pecah yang ia beri
Bagai bocah yang merenangi
Lembah air matanya sendiri
Hati, sadarkah kau?
Gelebah menyiksa setiap malam
Berharap kau usir bayang
Entah pergi entah hilang
Di bawah birunya mega
Ingin kukayuh sepeda waktu
Namun kau menjingga
Tanpa peduli lelahku
Hati, tolong aku
Gerus bayang-bayang itu!
Cilincing, 4 Agustus 2015
Hati
Berapa kali kau kubisiki
Tentang kepam yang menoreh diri
Membuat lebam matahari
Kini
Curahan sayang telah pergi
Bersama dayu yang ia cintai
Tapi mengapa kau tak sadar meski sekali?
Jangan diam melihatku menangisi
Setiap pecah yang ia beri
Bagai bocah yang merenangi
Lembah air matanya sendiri
Hati, sadarkah kau?
Gelebah menyiksa setiap malam
Berharap kau usir bayang
Entah pergi entah hilang
Di bawah birunya mega
Ingin kukayuh sepeda waktu
Namun kau menjingga
Tanpa peduli lelahku
Hati, tolong aku
Gerus bayang-bayang itu!
Cilincing, 4 Agustus 2015
Hujan
hujan indah ya, Sayang
saat rintik memercik bunga
titis mendetak daun
dan rinai memerdu tanah
lalu tangan kita bergenggam erat
senyum mengalir
: hangat!
tapi ....
hujan juga jahat ya, Sayang
rintisnya melusuh hati kita
dinginnya membekukan rasa
beceknya tertinggal di lengkung mata
aku dan kamu berjauh
bak guntur dan kilat yang tak mau padu
hari semakin basah
airmata meluap di mana-mana
:ternyata hujan tak selamanya indah
Cilincing, 9 Februari 2016
hujan indah ya, Sayang
saat rintik memercik bunga
titis mendetak daun
dan rinai memerdu tanah
lalu tangan kita bergenggam erat
senyum mengalir
: hangat!
tapi ....
hujan juga jahat ya, Sayang
rintisnya melusuh hati kita
dinginnya membekukan rasa
beceknya tertinggal di lengkung mata
aku dan kamu berjauh
bak guntur dan kilat yang tak mau padu
hari semakin basah
airmata meluap di mana-mana
:ternyata hujan tak selamanya indah
Cilincing, 9 Februari 2016
Jumat, 05 Februari 2016
Pelangi Dua Warna
Pelangi Dua Warna
Dulu itu pernah sekali ingat
hanya owa-owa suaraku
Di ketika itu nada sumbang tak bernalar laku
Dalam ringkih hanya mencari susu ibu
Pun tak paham warna pelangi mejikuhibiniu
Dulu itu pernah sekali ingat
hanya owa-owa suaraku
Di ketika itu nada sumbang tak bernalar laku
Dalam ringkih hanya mencari susu ibu
Pun tak paham warna pelangi mejikuhibiniu
Lalu aku tersaruk
Pada angkasa berlapis warna
Ada merah, jingga, violet, hingga gulita
Kupahami dengan sekotak otak berdawai firman
Hingga senja menyapaku dengan senyuman
Kini aku sudah di sini
Pelangiku tinggal dua warna lagi
Hitam dan putih di atas mahkota ini
Menjemput negeri lebih abadi
Jakarta, 8 Desember 2014
Pada angkasa berlapis warna
Ada merah, jingga, violet, hingga gulita
Kupahami dengan sekotak otak berdawai firman
Hingga senja menyapaku dengan senyuman
Kini aku sudah di sini
Pelangiku tinggal dua warna lagi
Hitam dan putih di atas mahkota ini
Menjemput negeri lebih abadi
Jakarta, 8 Desember 2014
Langganan:
Postingan (Atom)