Kamis, 22 September 2022

Puisi Kau

 Tengah malam

Saat jarum jam berdetak

Kau tak tidur

Suara-suara mengganggu


Semua berteriak

Ingin kau berlari

Lebih cepat


Sementara

Tangan kecilmu telah lelah

Mengais harapan masa depan


Kakimu terluka

Berjalan penuh duri tajam


Dan kau masih telanjang


Lalu kau marah

Menimpakan jeritan pada dinding bisu

Memaki kisi-kisi jendela

Yang tak jua memberimu jalan keluar



Jakarta, 17 September 2022




Jumat, 09 September 2022

 

Tugas 2.1.a.8 Koneksi Antar Materi

 

NUR JANNAH, S.Pd

CGP 5 – DKI JAKARTA

 

Pembelajaran Berdiferensiasi

Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa pendidikan bertujuan untuk menuntun kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Hal tersebut menjadi landasan filosofis yang mendasari setiap guru agar berorientasi pada kebutuhan anak didik dalam melakukan pembelajaran di kelasnya.

 


Kesesuaian pembelajaran dengan kebutuhan anak didik dalam belajar akan sangat mempengaruhi tercapainya tujuan. Kesesuaian itu mencakup 3 hal, yaitu :


1.   Kesesuaian pembelajaran dengan minat mereka,

2.   Kesesuaian pembelajaran dengan kesiapan belajar mereka, dan

3.   Kesesuaian pembelajaran dengan profil belajar mereka


Yang dimaksud dengan minat adalah tujuan atau orientasi belajar siswa. Semakin sesuai pembelajaran dengan minat mereka, maka semakin berhasil tujuan pembelajaran.

 

Minat dapat  tumbuh sendiri juga dapat dipengaruhi. Oleh karenanya guru bertugas menemukan sekaligus menumbuhkan minat siswa dalam pembelajaran.

 

Guru tidak dapat memaksakan minat tertentu kepada murid tetapi masih bisa mempengaruhinya. Karena minat bersifat kondisional dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung hal-hal yang dialami oleh  siswa tersebut.

 

Sedangkan yang dimaksud kesiapan belajar siswa adalah seberapa besar daya dukung yang dimiliki siswa untuk membantunya belajar. Bisa berupa sarana, prasarana, budaya dan kebiasaan belajar, orang-orang terdekat yang membantu belajarnya, dan lain-lain.

Semakin besar tingkat kesiapan belajar siswa maka akan semakin tinggi pula keberhasilan belajarnya.

 

Selanjutnya, yang dimaksud dengan belajar siswa adalah gaya belajar siswa itu sendiri yang tentunya unik, saling berbeda satu sama lain dan memiliki ciri khas masing-masing.

 

Semakin sesuai pelajaran dengan profil atau identitas belajar siswa, maka akan semakin tinggi keberhasilan belajarnya.



Jika diamati secara mendalam, ketiga aspek kebutuhan belajar siswa itu saling berbeda satu sama lain, tidak ada yang sama persis, baik minat, kesiapan, maupun gaya belajarnya. Oleh karena itu, guru harus melaksanakan pembelajaran yang berdiferensiasi, demi memenuhi kebutuhan setiap siswanya agar pembelajaran yang dilakukan itu berhasil.

 

Jika ada 32 siswa di kelas, maka guru tidak bisa hanya mengandalkan 1 macam pendekatan untuk dipakaikan pada siswa secara keseluruhan. Guru tidak bisa menyamaratakan cara, pendekatan, metode, media, ataupun model penilaian belajar untuk seluruh siswanya itu.

 

Namun, bukan berarti guru harus membuat 32 model pembelajaran dalam satu waktu juga. Melainkan, setiap anak dikelompokkan sesuai minat, kesiapan dan gaya belajarnya itu.

 

Misal secara kepribadian, anak dapat dikategorikan pada 3 kelompok besar yaitu introvert, ekstrovert dan sanguinis.

 

Kesiapan belajar anak bisa dikategorikan pada 3 kelompok misal sudah terlihat, cukup terlihat dan perlu bimbingan.

 

Dari gaya belajar siswa bisa dikategorikan pada 3 kelompok auditori, visual dan kinestetik.

 

 


Bagaimana mengetahui tingkat kebutuhan siswa baik minat, kesiapan belajar maupun gaya belajarnya?

 

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Guru bisa melakukan hal-hal berikut;

1.   Tes diagnostik awal

2.   Observasi

3.   Wawancara

4.   Penilaian sejawat

5.   Penilaian diri

Setelah guru memiliki catatan tentang pengelompokan kebutuhan belajar siswanya maka guru bisa melakukan diferensiasi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka tersebut.

      Diferensiasi pembelajaran dapat dilakukan dalam 3 hal;

1.   Diferensiasi konten

2.   Diferensiasi proses

3.   Diferensiasi produk

 

Guru bisa melakukan salah satu model diferensiasi di atas, bisa juga sekaligus dua model, bisa juga sekaligus ketiganya.

 



Pelaksanaan diferensiasi pembelajaran pada siswa di kelas akan lebih memenuhi kebutuhan siswa. Kita sebagai guru harus mulai melaksanakannya dari sekarang. Yang jelas perubahan tersebut kita lakukan secara perlahan namun pasti.

 

Terima kasih

 

Nur Jannah, S.Pd

CGP 5 - DKI JAKARTA

Kamis, 25 Agustus 2022

Tugas 1.4.a.8 Koneksi Antar Materi Budaya Positif

 


          Kaitan antara materi modul 1.1. pemikiran filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara, 1.2. nilai dan peran guru penggerak, 1.3. visi guru penggerak, dan 1.4 budaya positif adalah:

          Bahwa budaya positif perlu diciptakan di lingkungan sekolah demi mewujudkan visi yang berpihak pada murid. Salah satu budaya positif adalah budaya disiplin positif.

         Disiplin artinya belajar atau motivasi internal untuk melakukan suatu keyakinan, bukan tata tertib, peraturan atau ketaatan. Peraturan bersifat pemaksaan, dorongannya dari luar dan juga tidak nyaman, beda dengan keyakinan, keyakinan mengindikasikan adanya dorongan dari dalam dan bersifat tetap.

          Ada 3 motivasi seseorang melakukan sesuatu yaitu menghindari hukuman, berharap imbalan, dan motivasi dari dalam diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang diyakininya. Sehingga seseorang tidak bisa dikontrol oleh orang lain. Guru mengontrol murid adalah ilusi.

          Oleh karenanya kita harus mengubah paradigma dari Peraturan menjadi Keyakinan, dari sistem Stimulus-Respon menjadi Fungsi Kontrol Pemantau-Manajer dan dari metode Hukuman-Penghargaan menjadi budaya Restitusi.

           Hukuman dan penghargaan bersifat jangka pendek, mengakibatkan ketergantungan dan ambisi tanpa tahu nilai keyakinan. Bahkan hukuman diberikan terkadang secara tiba-tiba, tidak logis dan tidak bersifat konsekwen.

          Penghargaan dapat memunculkan rasa kecewa, ketergantungan, bersifat benda bukan nilai, menurunkan daya kreatifitas dan kualitas, serta bisa berbalik menjadi sebuah hukuman jika tidak mendapatkan. Sehingga fungsi Stimulus-Respon harus diubah menjadi fungsi Kontrol.

          Dalam usaha menegakkan budaya positif, ada 5 posisi kontrol yaitu penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pemantau dan manajer. Penghukum selalu menggunakan hukuman fisik maupun verbal, pembuat rasa bersalah selalu menekan siswa dengan kata-kata menyalahkan dan menusuk, posisi teman membuat siswa merasa sejajar dengan guru sehingga berkurang rasa hormat dan patuh, pemantau mengawasi siswa dengan menggunakan konsekwensi dan sanksi, dan manajer akan membantu murid menemukan kesalahan dan mempertanggungjawabkannya atas kesadaran diri sendiri.

         Tingkah laku seeorang terdorong oleh 5 kebutuhan dasarnya yaitu fun, freedom, love, power dan survive. Kesenangan, kebebasan, cinta kasih sayang, kekuatan serta kebutuhan fisik/hidupnya. Jika kurang terpenuhi maka mereka akan mencarinya dengan melakukan segala macam cara. Begitu juga murid. Jadi dalam menangani murid yang bermasalah, guru harus menggali mana kebutuhan yang belum terpenuhi ini.

          Peraturan dan tata tertib sekolah seyogyanya diubah menjadi sebuah keyakinan sekolah. Karena peraturan bersifat memaksa dan tidak menyenangkan sedangkan keyakinan bersifat tetap dan tumbuh dari dalam.

          Restitusi merupakan 3 langkah dalam menanamkan motivasi internal siswa terhadap sebuah nilai kebajikan. Merupakan sebuah cara tepat dalam membangun disiplin positif. Tiga langkah ini biasa disebut dengan segitiga restitusi, yaitu:

1. Menstabilkan identitas

2. Validasi tindakan salah

3. Menanyakan keyakinan 

      Ada beberapa hal menarik di luar dugaan saya yaitu bahwa disiplin itu berarti belajar atau motivasi dari dalam diri, bukan sekadar tata tertib atau peraturan. Teori 3 motivasi juga menjadi landasan saya sebagai guru dalam memahami murid berperilaku, lalu mencoba menggali apa kebutuhan dasar murid yang belum terpenuhi. Selain itu, keyakinan kelas perlu dibuat sebagai pengganti peraturan atau kesepakatan. Karena peraturan sifatnya dari luar sedang keyakinan dari dalam. Penghargaan dan hukuman juga yang tadinya saya kira ampuh untuk menegakkan disiplin ternyata banyak efek negatifnya dan harus diganti dengan cara restitusi sebagai jalan terbaik. 

     Banyak perubahan yang terjadi pada cara berpikir saya dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah. Saya yakin bahwa peraturan sekolah perlu diubah menjadi keyakinan sekolah. Saya yakin bahwa saya tidak bisa memaksa siswa saya kalau bukan mereka sendiri yang berkehendak berubah. Saya yakin bahwa sistem Stimulus-Respon perlu diubah menjadi sistem kontrol Pemantau-Manajer. Saya yakin bahwa hukuman hanya berdampak jangka pendek dan belum tentu tidak menyakiti siswa. Saya yakin bahwa hadiah hanya akan menurunkan kualitas, kreatifitas, dan banyak memiliki dampak negatif. Saya yakin untuk mengurangi hukuman dan hadiah dan diganti dengan restitusi dalam menegakkan budaya disiplin positif

         Dulu saya sering menerapkan hukuman dan hadiah bagi siswa dalam menegakkan peraturan sekolah tapi itu dampaknya sebentar dan menimbulkan sakit atau ketagihan, selain itu sering memaksakan kehendak sehingga murid melakukan sesuatu secara terpaksa dan tampak tidak bahagia. Dalam proses memahami modul ini saya jadi bisa mencari jalan keluar bersama-sama dengan murid sehingga efek disiplinnya bertahan lama serta siswa saya lebih banyak tersenyum. Secara bertahap saya melakukan perubahan pada kelas saya dan mengimbaskan pada rekan satu sekolah.

          Perasaan saya ketika mengalami hal-hal tersebut adalah merasa bahagia seperti menemukan mutiara di dalam kolam. Menemukan apa yang selama ini dicari. Menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapi selama bertahun-tahun. Selain itu juga merasa aneh dan tercerahkan karena apa yang selama ini saya yakini dalam hal pembelajaran siswa ternyata masih banyak yang salah. Ilmu yang dirasa sudah cukup dalam pendidikan ternyata masih jauh sekali dan masih perlu banyak belajar

          Menurut saya dalam penerapan konsep-konsep tersebut di kelas dan sekolah, hal yang sudah baik adalah dukungan kepala sekolah serta kolaborasi dengan teman pengajar sangat bagus sehingga mengikuti perubahan positif yang saya lakukan. Siswa dan orangtua pun mengambil peranan penting dalam perubahan ini. Yang perlu diperbaiki adalah keterampilan guru dalam menerapkan fungsi kontrol pemantau-manajer, melakukan restitusi dan membuat keyakinan sesekolah

        Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, saya sering memakai posisi Penghukum dan Teman. Rasanya dulu sering kesal dan bingung karena perbuatan salah siswa selalu diulangi dan sepertinya mereka tidak pernah mau sadar atau mau berubah. Sekarang saya meningkatkan posisi sebagai Pemantau dan Manajer. Rasanya lucu, aneh, senang, bahagia, tercerahkan, dan lebih menyatu-hati dengan murid, karena mereka mau mengakui kesalahan dengan tersenyum tanpa beban serta termotivasi secara intrinsik untuk memperbaiki kesalahan mereka

      Sebelum mempelajari modul ini, saya sudah pernah mendengar istilah restitusi beberapa tahun sebelum ini bahkan juga pernah melihat contoh simulasinya tetapi masih bingung cara menerapkannya langsung di kelas. Jadi saya belum pernah

      Namun, ada beberapa hal yang saya anggap perlu untuk ditambahkan selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini,  yaitu menurut saya perlu adanya materi tentang NILAI POSITIF DIRI atau LOVE YOURSELF untuk siswa agar mereka juga memahami bahwa budaya positif dibangun dari, oleh dan untuk siswa itu sendiri. Dengan materi tersebut siswa diarahkan mengenali potensi diri, mencintai dirinya, mengenali minat, mengasah bakat, meningkatkan kemampuan serta mampu mengantisipasi bullying atau budaya negatif lainnya.

          Demikianlah disiplin positif tersebut dilaksanakan dalam rangka mewujudkan visi guru atau sekolah yang berpihak pada murid, yang menggerakkan hati dan kolaborasi dalam menumbuhkembangkan nilai-nilai kebajikan yang luhur (nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila) pada murid-murid melalui prakarsa perubahan yang positif dan apresiatif. Karena dengan visi itu, semua kegiatan yang dikerjakan jadi memiliki gambaran tujuan yang jelas.

           Dalam pelaksanaan itu semua, guru penggerak harus menunjukkan nilai dirinya sebagai orang yang berpihak pada siswa, mandiri, reflektif, kolaboratif dan inovatif dengan cara melakukan disiplin positif pada siswa di kelasnya terlebih dahulu, bekerjasama dengan siswa, memahami kebutuhan dasar siswa dan melaksanakan restitusi untuk memecahkan masalah indisipliner. 

           Selain itu juga guru penggerak harus memaksimalkan perannya sebagai pemimpin pembelajaran, coach guru lain, mewujudkan kepemimpinan murid, menggerakkan kolaborasi, dan menggerakkan komunitas. Maka guru penggerak harus mampu berkolaborasi, menjalin kerjasama positif dengan seluruh pihak sekolah untuk mengimbaskan budaya disiplin positif kepada rekan sejawat, membawa perubahan untuk seluruh sekolah.

        Semua itu tak lain dan tak bukan adalah untuk mewujudkan tujuan pendidikan sesuai dengan amanat Ki Hajar Dewantara yang mengatakan bahwa pendidikan harus berpusat pada siswa dan dilaksanakan sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya agar mencapai tujuan untuk keselamatan dan kebahagiaan siswa setinggi-tingginya, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Maka setelah ini, saya akan melakukan aksi nyata yaitu pengimbasan tentang disiplin positif kepada rekan sekolah dengan rancangan aksi sebagai berikut.




Terima kasih atas perhatiannya.

Salam guru penggerak

Salam bahagia


Nur Jannah, S.Pd

CGP 5 DKI Jakarta


Senin, 04 Juli 2022

Menguak Dapur Penerbit Mayor Andi

Resume Pelatihan Menulis PGRI

Malam ini adalah Pertemuan ke 21. Narasumber pimpinan penerbit Andi, Bapak Joko Irawan Mumpuni. 

Sudah lama penulis mengincar penerbit mayor ini, apalagi belum lama, seorang kawan menunjukkan emailnya tentang surat pemberitahuan dari penerbit ini untuk mencetak ajuan naskahnya beserta kompensasi yang diperoleh. 

Wow, betapa membahagiakannya.

Sebelum mengirim naskah, kita harus tahu terlebih dahulu mengenai dapur penerbitan mayor. 

Menurut Pak Joko, penerbit adalah industri kreatif yang didalamnya ada kolabarasi insan-insan kreatif : Penulis, Editor, Layouter, Ilustrator dan desain grafis. Ini adalah bagian dari industri kreatif penerbitan cetak, saat ini dan mendatang akan bertambah insan-insan kreatif bidang lain yang akan bergabung seiring dengan perkembangan dunia penerbitan yang kini sudah mengarah pada Publisher 5,0. yang memanfaatkan teknologi IT untuk menerbitkan karya-karya kreatif.

Ada banyak jenis buku di dunia ini, biasanya klasifikasi jenis buku dibagi 2. Dua kategori besar jenis buku adalah buku Teks (buku sekolah-kampus) dan buku Non Teks (buku-buku populer). Buku sekolah disebut buku pelajaran sedangkan kampus disebut buku Perti (perguruan tinggi). 

Buku Perguruan tinggi dibagi dua lagi menjadi buku Eksak dan Non Eksak.

Sedangkan Buku Nonteks dibagi dua lagi menjadi buku Fiski dan Non Fiksi. 

Menariknya adalah, menurut Pak Joko, ada penulisnya yang secara rutin tiap 6 bulan sekali menerima royalty sampai ratusan juta rupiah. Nah ....

Pertanyaan besar yang sering muncul adalah apa kriteria gar naskah buku dapat diterima oleh penerbit untuk dapat diterbitkan. Karena tidak semua naskah dapat diterima. Sebagai contoh penerbit ANDI itu tiap bulan menerima naskah masuk bisa sampai 500 naskah. Namun yang diterima untuk diterbitkan hanya 50 Judul saja. Inilah kriterianya:

TEMA POPULER, PENULIS POPULER

Jadi, jangan harap dipinang mayor jika naskah masih bertema tidak populer. 

Dari mana tahu tema-tema yang populer? Banyak cara. Salah satunya dengan searching di Google Trend.

Eits, selain populer, ada kriteria dan bobot khusus dalam sistem penilaiannya loh. Yaitu editorial 10%, peluang potensi pasar 50-100%, keilmuan 30%, dan yang tak kalah penting, reputasi penulis 10-100%.

Wah, jadi penasaran ya mau ikutan kirim. Yuk segera menulis dan kirim ke penerbit Andi.




Minggu, 22 Mei 2022

Lokakarya Perdana CGP Angkatan 5 DKI Wilayah Jakarta Utara



Adakah yang menyadari kalau hari ini adalah tanggal cantik? Semoga akan berdampak cantik juga untuk para calon Guru Penggerak angkatan 5 DKI Jakarta, khususnya Wilayah Jakarta Utara.

Hari ini, Minggu, 22 Mei 2022, pada pukul 07.00-16.00 WIB dilaksanakan Lokakarya Perdana Orientasi Program Guru Penggerak Jakarta Utara di Hotel Hilton Garden Inn, Taman Palem, Jakarta Barat.

Pesertanya adalah 102 CGP (Calon Guru Penggerak) yang sudah dinyatakan lolos seleksi simulasi dan wawancara beberapa waktu lalu, para kepala sekolah dan juga para pengawas wilayah tempat CGP bertugas.

Acara dimulai dengan sambutan sekaligus penjelasan mengenai Pelaksanaan Program Guru Penggerak oleh Kepala Seksi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (Kasie PTK) Dinas serta sambutan Kasie PTK Suku Dinas Jakarta Utara yaitu Bapak Achmad Solikhin, M.Pd. 

Kemudian para peserta dibagi menjadi 6 kelompok dan berkumpul pada ruangan khusus. Para pengawas dan kepala sekolah pun mengikuti kelas CGP-nya masing-masing.

Di sinilah keunikan acara tersebut. Ternyata para CGP meminta restu, arahan, bimbingan dan dukungan kepada para pengawas dan kepala sekolahnya. Mereka mengungkapkan harapan serta kekhawatiran mereka dalam menjalankan program pendidikan dan pelatihan CGP selama 6 bulan ke depan.

Para pengawas dan kepala sekolah pun tak kurang memberi dukungan semangat dan motivasi yang membangun. Terasa sekali kekeluargaan seolah antara anak dengan orangtuanya.

Di antara harapan para pengawas dan kepala sekolah adalah:

1. CGP diharap bersungguh-sungguh menjalankan Diklat sekaligus memperhatikan pula segi kesehatan

2. CGP diminta sering berkoordinasi kepada pihak sekolah dan menjadi kepanjangan tangan pimpinan dalam mensosialisasikan Kurikulum Merdeka

3. CGP diminta tidak melupakan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) sebagai guru, justru semakin meningkatkan kinerja di sekolah dan kelas yang diampu

Terima kasih bapak ibu pengawas dan para pimpinan. Semoga kami dapat meneladani gerak langkah bapak ibu semua.

Acara berikutnya ialah arahan para Pengajar Praktik kepada CGP dalam mengisi lembar-lembar kerja dan pembuatan portofolio digital. Terima kasih para pengajar praktik dan para fasilitator. Dengan bimbingannya, semoga kami bisa menjalankan Diklat dengan baik.

Terakhir, ditutup dengan refleksi dari para peserta yang tampak sangat penuh syukur dan terkesan serta antusias atas kegiatan hari ini.

Demikianlah kegiatan Lokakarya Perdana Calon Guru Penggerak Angkatan 5 DKI Jakarta Wilayah Jakarta Utara. Semoga seluruh CGP Angkatan 5 Wilayah Jakarta Utara dapat mengikuti program dengan baik dan berhasil menjadi agen perubahan ke arah pendidikan yang lebih baik.


Salam Guru Penggerak.

Nur Jannah, S.Pd

CGP SDN Kalibaru 03



Jumat, 20 Mei 2022

Resume 2 Latihan Kepenulisan PGRI

Resume ke - 2

Gelombang : 25

Tanggal : 20 Mei 2022

Tema : Writing is My Passion

Narasumber : Bunda Kanjeng



Sehat, Lur? Alhamdulillah. Kita resume yuk pertemuan 2. Seperti biasa, acara dibagi  dalam 4 sesi, yaitu:

1. Pembukaan

2. Paparan materi melalu chat WA grup

3. Tanya jawab

4. Penutup

Kali ini dimoderatori oleh Mbak Widya Altha. Sedangkan Bunda Kanjeng sendiri dikenal sebagai Ratu Antologi karena telah menulis 21 buku. Beliau juga seorang guru. 

Materi disampaikan menggunakan slide per slide dan voice note. Sempat terpikir mengapa tidak langsung 1 file saja, kemudian peserta diberi waktu mencermati beberap menit lalu beliau memberi penjelasan awal kemudian tanya jawab.

Yah, mungkin setiap orang punya gaya masing-masing dalam menyampaikan informasinya, he he he.

Yang jelas, materinya daging semua. Diawali dari perkenalan diri, lalu 15 slide materi tentang :

1. Mengapa menulis merupakan sebuah passion yang menjanjikan

2. Kendala dan Hambatan

3. Alasan untuk menulis

4. Motivasi menulis

5. Menjadi penulis yang baik

6. Writing preparation

7. Menulis harus sabar

Pada kesempatan ini ada 20 pertanyaan yang terjawab pada sesi pertanyaan. Saya beruntung karena pertanyaan saya masuk ke-17 dan dapat ditayangkan serta dijawab langsung oleh Bunda Kanjeng melalui voice note-nya.

Mengapa menulis menjadi Passion yang menjanjikan ? Karena kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berfikir. Profesi penulis juga ripandang satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara sosial.

Kendala dan hambatan yang sering terjadi diantaranya merasa tidak punya bakat menulis, tidakmemiliki waktui, tidak memiliki idei, tidak mau dikritik, dan tidak suka menulis.

Alasan untuk menulis lebih bersifat filosofis berhubungan dengan nilai, visi dan misi hidup kita di dunia.

Motivasi menulis dari hadis Nabi yang mengatakan "Khoirunnas man anfa'uhu linnas" yang artinya "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lain."

Menjadi penulis yang baik harus banyak  membaca, diskusi, melihat dan merasakan, serta mensosialisasikan.

Persiapan menulis meliputi menggali dan menemukan ide atau gagasan, menemukan tujuan, genre, dan segmen pembaca, menentukan topik, membuat outline dan mengumpulkan bahan.

Menulis harus sabar maksudnya pekerjaan menulis itu bukan hal yang instan tetapi berproses, sehingga dibutuhkan kenyamanan saat mengerjakannya. Oleh karena itu harus bersabar.

Demikian resume pada kegiatan pelatihan kedua ini. Semoga semakin memotivasi kita untuk terus berkarya.

Salam satu pena.

Nur Jannah, S.Pd

Guru SDN Kalibaru 03






Rabu, 18 Mei 2022

Resume 1 Latihan Kepenulisan PGRI

Resume ke - 1

Gelombang : 25

Tanggal : 18 Mei 2022

Tema : Ide Menulis Bagi Guru

Narasumber : Wijaya Kusumah, M.Pd



Sudah lama saya ingin mengaktifkan kembali blog, tetapi bingung mau memulai dari mana. Untungnya, saya bisa ikut bergabung dalam pelatihan belajar menulis yang diadakan oleh PB PGRI gelombang 25. Pada pertemuan pertama pelatihan yaitu Rabu, 18 Mei 2022 pukul 19.00 – 21.00 wib melalui media WhatsApp Group, kami mendapat materi yang sangat berisi.


Ide Menulis Bagi Guru merupakan materi yang sangat kami butuhkan. Bapak Wijaya Kusumah M.Pd (Om Jay), sangat menginspirasi dengan materinya tersebut. Bahkan ada 3 peserta yang memperoleh hadiah karena berhasil menjawab tantangan beliau.


Saat itu beliau memberikan gambar sebuah bunga dan peserta ditantang untuk membuat narasi tentang gambar itu. Sayangnya, saat saya masih mengetik, tiba-tiba grup ditutup karena sudah cukup banyak peserta yang mengirim dan Om Jay sudah menemukan pemenangnya.


Yah, lain kali harus lebih cepat lagi menangkap umpan dan panitia atau narasumber. 


Meskipun tak mendapat hadiah, saya sangat bahagia karena mendapat materi tentang ide menulis bagi guru. Begitu banyak dan beragam. Mengapa tidak terpikir oleh saya sebelumnya? 


Terima kasih PGRI, Pak Bryan Prasetyawan, Om Jay, dan seluruh panitia serta teman-teman peserta yang sudah mau berbagi. Semoga segala kebaikan berpulang juga kepada kalian semua. Amin.


Saya pribadi merasa sangat beruntung dapat mengikuti kegiatan ini. Terima kasih.


Jakarta, 19 Mei 2022.

Nur Jannah, S.Pd

Guru SDN Kalibaru 03 Jakarta