Sabtu, 20 Februari 2016

Dik!


selalu ada perih saat mengingatmu
tiap jengkal senyum makin menguliti aku
kau datang di malam-malam tak tentu
lempar selendang putih lalu terbang ke langit
tiba-tiba pagi
dan kau sisakan pelangi
dan seembun rintik
aku tahu itu air matamu, Dik!
(Tuhan, bahagiakanlah ia).



Cilincing, 6 Jan 2016
TAKDIR SEBUAH HARAPAN 
Berharap. Setiap orang pasti punya harapan. Tapi tidak aku. Sudah lama aku tak mau lagi  berharap. Percuma. Harapan itu ibarat udara di ujung sedotan saat terkurung dalam sumur kegelapan. Aku bisa menghirupnya tapi tak dapat hidup lama dengannya. Harapan adalah tipuan.
Dan Danu, kau pria tertampan pertama yang kukenal. Aku mencintaimu setulus hati. Bahkan namamu serupa dengan angin yang terus bergerak mengikutiku.
“Dan, kapan kau mau menikahiku?”
Kau terdiam. Hanya duduk di salah satu besi itu. Mulai mengayunkan kaki, lalu bergerak maju mundur.
“Entahlah. Aku tak tahu.”
Kau payah, Dan. Selalu itu saja jawabanmu. Bahkan kematiannya tak lantas membuatmu mengerlingku. Mengapa kau tak mau melupakannya? Dan lihat perutku. Aku berharap kita beriringan di depan altar. Mengenakan warna kontras hitam putih dan melempar buket ke arah para jejaka dan gadis di sana.
“Dan, sampai kapan kita begini?”
Kau tertunduk.
Tubuh masih kau sandarkan di atas kursi besi bertali itu. Kau sama persis dengan ayunan itu, Dan. Hanya bergerak maju mundur tak pernah sampai ke satu titik tertentu. Kau tak pernah bisa memberi keputusan apa-apa.
Aku mulai bosan. Andai aku pergi Dan, kau tentu akan tinggal di tempat. Menunggu orang lain datang memontang-pantingkanmu ke sana ke mari saja.
Baiklah, aku pergi saja sekarang.
Tapi tidak, Dan. Ternyata waktu tak sanggup memberanguskanmu.
Aku masih terkungkung dalam lamunan, barangkali saja Tuhan mau mengabulkan doaku. Kulantunkan munajat di setiap sepertiga malam. Kutulis harapan itu pada sepotong kertas, kumasukkan dalam botol, kulempar sejauh bisa ke arah laut sana. Berharap suatu saat bila ada yang menemukannya ia akan mengadukannya pada langit.
Kutulis lagi. Kuletakkan di bawah bantal. Berharap kau melamarku dalam tidur. Tapi itu tak pernah terwujud.
Kemudian surat itu kutitipkan pada pria-pria salih. Di gereja-gereja, wihara-wihara dan masjid-masjid, agar Tuhan mau membaca harapanku. Tapi sekian waktu kau masih saja ambigu. Tak ada apa-apa di sana, Dan. Tak ada tubuh ringkih yang pernah kau puja dulu.
Aku marah. Kesal. Tak mau lagi berharap. Dan tak mau menginginkan apa-apa lagi. Hingga suatu hari putrimu menarik tanganku, menuntun pada sebuah pusara.
“Mama, sudah dua puluh tahun. Relakan ….”
Tamat
Jakarta, 2 Pebruari 2016
Hujan


hujan indah ya, Sayang
saat rintik memercik bunga
titis mendetak daun
dan rinai memerdu tanah


lalu tangan kita bergenggam erat
senyum mengalir
: hangat!
tapi ....

hujan juga jahat ya, Sayang
rintisnya melusuh hati kita
dinginnya membekukan rasa
beceknya tertinggal di lengkung mata

aku dan kamu berjauh
bak guntur dan kilat yang tak mau padu
hari semakin basah
airmata meluap di mana-mana

:ternyata hujan tak selamanya indah


Cilincing, 9 Februari 2016

Jumat, 05 Februari 2016

RAHASIA DI BALIK HUJAN


Musim penghujan datang. Betapa hari berjalan cepat sekali di telapak kaki wanita itu. Dulu, mungkin ia akan berlarian di bawah tetesnya. Merentangkan kedua tangan. Memejam mata sambil membuka mulut menghadap langit. Tapi tidak sekarang, usia telah menyepuh rambutnya hingga benderang.

***

“Kiyah, bangun, Nak. Hari ini kita akan pesta besar.“

Anak perempuan yang datang bulan saja belum itu duduk di tepi ranjang. Sejenak mengucak-ucak mata.
Lalu memandang wajah Simbok.

“Pesta? Rame-rame, Mbok?”

“Iya. Kamu mau pake baju bagus ndak? Pake bedak, gincu …,”

“Gincu, Mbok?” Matanya membulat. “Yang bikin bibir merah? Mau, mau,” ujarnya girang lantas berlari ke kamar mandi.
 
Rukiyah dipakaikan baju putih. Kebaya dan kain yang sering dilihatnya dipakai ibu-ibu di kampung saat ada perhelatan besar.

Dia tersenyum-senyum sendiri. Namun bingung, mengapa Simbok meyuruhnya duduk di samping laki-laki muda yang juga berdandan seperti bapak-bapak. Pipinya bersemu merah saat difoto bersama para tetamu. Lagi-lagi hatinya merasa aneh karena laki-laki berjas di sampingnya selalu ikut dalam foto tersebut.

“Mbok, kapan selesai, aku mau main congkelak sama Asih?”

Mboknya menyuruh diam.

Menjelang maghrib, musik dihentikan. Kursi-kursi mulai dibenahi.
Rukiyah dibolehkan mandi dan berganti pakaian. Sehabis mandi, ia masuk ke kamarnya dan kaget melihat kamarnya lain sekali dengan tadi pagi. Bagus, rapi dan wangi. Tiba-tiba pintunya diketuk simbok.
Seraut wajah pria menyembul di samping beliau. Rukiyah buru-buru menahan pintu.

“Ada apa toh, Mbok?” pandangnya penuh selidik.

“Cium tangan Masmu!” perintahnya.
 
Rukiyah diam saja. Ia baru mau menggerakkan tangan setelah ibunya sedikit marah. Setelah itu ibu keluar.
Rukiyah mengambil bantal dan menyerahkannya. Laki-laki itu menurut saja ketika disuruh tidur di lantai.

Setiap malam Permadi tidur di bawah. Hanya sesekali menikmati empuknya kasur. Yaitu saat istrinya berada di luar rumah sore hari. Mungkin ke rumah Asih untuk main lompat tali atau bola bekel.

Lalu teruntailah rahasia itu. Awal musim penghujan. Senja hari hujan sangat besar. Rukiyah tak bisa tidur. Permadi minta tolong untuk membaginya sedikit ruang di atas ranjang.

“Lantai dingin sekali,” katanya.

Malam itu menyimpan rahasia Rukiyah dan Permadi yang telah memiliki tujuh anak dan sebelas cucu kini.
Kamu sudah tahu rahasia itu kan?

TAMAT
Cilincing, 27 Januari 2016

Pelangi Dua Warna

Pelangi Dua Warna


Dulu itu pernah sekali ingat
hanya owa-owa suaraku
Di ketika itu nada sumbang tak bernalar laku
Dalam ringkih hanya mencari susu ibu
 

Pun tak paham warna pelangi mejikuhibiniu
Lalu aku tersaruk
Pada angkasa berlapis warna
Ada merah, jingga, violet, hingga gulita

Kupahami dengan sekotak otak berdawai firman
Hingga senja menyapaku dengan senyuman

Kini aku sudah di sini
Pelangiku tinggal dua warna lagi
Hitam dan putih di atas mahkota ini
Menjemput negeri lebih abadi


Jakarta, 8 Desember 2014

Minggu, 31 Januari 2016

Antara Dua Hati

ANTARA DUA HATI

(Cerpen ini dimuat dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Senyum Bidadari, 2015, bersama kawan-kawan di LovRinz and Friends)

“Jangan sakiti diri sendiri, Hanum.” Tangannya lembut mengusap bulir yang mengalir dari kedua bola mataku.

“Ini yang sangat kusesalkan. Kita tak pernah tahu takdir Allah atas diri kita bukan?” katanya lagi menatapku dalam-dalam.

“Aku takut, Mas. Aku tak ingin melihat Mas dan keluarga porak karena aku,” kataku meyakinkannya, juga diri sendiri.

“Mengapa harus porak? Belum tentu.”

“Tapi, tadi siang, Mas ….”

“Kita tidak bisa mendahului takdir,” sahutnya cepat menahan gerak bibirku dengan jemarinya.

Ya Allah. Takdir. Apakah kesediaanku menerima pinangan Mas Ikmal dua bulan lalu itu takdir? Dan rela menjadi istri kedua, itu juga Allah yang mengatur? Apakah nantinya anak istrinya pergi meninggalkannya dan membenciku secara abadi itu pun takdir? Apakah aku masih bisa dikatakan memegang ukhuwah Islam? Ah, entahlah.

“Siapa yang mengira kita bisa berjumpa dan berjodoh seperti ini? Bukankah Allah juga yang mengaturnya?” tanyanya. Suaranya halus sekali.

Dadaku bergemuruh. Entahlah. Tadi siang istri pertama Mas Ikmal datang. Ia mengatakan banyak hal. Tentang perhatian Mas Ikmal yang tebagi. Juga masalah keuangan. Dan yang terutama, tentang aku yang dikatakannya sudah memberi sekat antara Mas Ikmal dengan kedua putri mereka.

“Entahlah, Mas. Aku tidak mau menyakiti hati wanita-wanitamu. Kita sudahi saja pernikahan ini.” Dengan susah payah kuucapkan kalimat itu.

Lalu aku berlari keluar. Memandangi langit yang mulai menyapa malam. Tak kuhiraukan Mas Ikmal yang tengah menanti di dalam kamar dengan al-qur'an di tangan.Hatiku masih risau.

Kuingat kembali kejadian tadi siang.

“Haaah, namamu saja yang bagus. Tampak dari luar indah dan anggun. Tapi perilakumu seperti orang tak berpendidikan.” Mbak Rana tiba-tiba datang sambil mengeluarkan kata sekasar itu.

“Masya Allah, Mbak. Mengapa Mbak berkata seperti itu?” tanyaku tidak mengerti. Bukankah selama ini ia sudah tahu pernikahan kami.

“Ah, sudahlah. Kamu pura-pura tidak tahu ya? Pura-pura bodoh. Di mana letak gelar kesarjanaanmu. Mengapa mau menerima pinangan lelaki beristri!” teriak Mbak Rana.

“Mbak, aku … ak-aku …,” ucapanku tersekat.

“Kamu apa? Kamu perebut suami orang, tahu!”

Aku hanya menunduk mendengar semua kata-katanya. Ini memang pernikahan kedua Mas Ikmal denganku yang baru berjalan beberapa bulan, tapi Mbak Rana baru pertama kali marah. Mungkin sebelumnya hanya dipendam. Aku baru menyadarinya. Dan sekarang kupikir aku harus menyudahinya.

Kutengadahkan kepala ke arah langit. Kuperhatikan cahaya bulan. Mengapa malam ini cahayanya bundar? Aku baru tersadar kalau sekarang pertengahan bulan. Dan tanpa kusadari pula, suamiku sudah berada di sisi.

“Melihat apa?” tanyanya dengan senyum khasnya.

Ya Allah, kuatkanlah hatiku. Kutepis uluran tangannya yang hendak meraih pinggangku.

Ia mengambil kursi dan meletakkannya tepat di hadapanku.

“Mari, sini!”

Sejenak aku ragu. Namun akhirnya kuturuti juga perintahnya.

“Kamu lihat cahaya bulan itu?” tanyanya. Dengan malas aku mengangguk.

“Apa menurutmu bulan memancarkan sendiri cahayanya?” selidiknya ke arah mataku yang sedari tadi kutundukkan.

Aku jadi jengah dengan tatapannya. Aku tak terbiasa bersitatap langsung dengannya. Maka kupalingkan wajah ke arah tanaman tekiku yang mulai meninggi.

“Dengar, Sayang. Seluruh alam ciptaan Allah bertasbih dan tunduk pada perintah-Nya. Begitu pula manusia, hewan, bintang, bulan, dan juga matahari,” katanya.

“Kamu tahu tidak kalau matahari saat malam pun bersinar?”

Pertanyaannya kali ini membuatku mendongak. Mana ada cahaya matahari malam-malam? Yang ada juga bulan. Itu, seperti di atas, yang kini tengah bundar dan menerangi semua yang berada di bawahnya, termasuk kami.

Aku menggeleng keras-keras. Ia menjawil ujung hidungku. Dan aku harus pura-pura marah karenanya.

“Kamu gimana sih? Lupa dengan pelajaran ilmu alam? Bulan kan nggak bercahaya sendiri. Ia hanya memantulkan sinar matahari. Sesungguhnya matahari tidak tenggelam saat malam. Ia tetap bersinar. Hanya saja sinarnya dititip lewat pantulan rembulan. Agar pada saat bekerja di bagian bumi yang lain, ia tetap bisa menerangi bagian bumi yang tengah ditinggalkannya.”

Ah, bodohnya aku ini. Tentu saja yang dikatakannya tentang pantulan sinar bulan itu benar. Mengapa aku lupa dengan pelajaran sekolah dasar ini. Mungkin terlalu hanyut dengan perasaanku seharian ini.

Tapi diam-diam otakku menelaah. Apa maksud Mas Ikmal dengan ucapannya? Apakah ia menganalogikan dirinya dengan matahari?

“Jadi …, Mas …?” tanyaku ragu-ragu.

Ia mengangguk

“Ya,” jawabnya tenang dan tegas.

"Akulah matahari. Akulah imam untuk kalian berdua. Izinkan aku bergulir pada siang dan malam. Selama berada di jalan Allah, kalian harus mentaatiku."

Kupandangi wajahnya yang terus tersenyum.

"Sebelum ke mari, aku sudah menyelesaikan permasalahan dengan Rana. Ia hanya agak kesal karena sedari pagi aku acuhkan. Padahal itu sengaja. Karena semalam ia tak menyelesaikan hafalan qur'annya," terang Mas Ikmal.

"Konsekwensi yang sama buatmu jika melanggar kepemimpinanku.” Aku menunduk mendengar penuturannya.

Mas Ikmal mengeluarkan handphonenya.

“Assalamu alaikum, Ummi. Anak-anak sudah sholat Isya semua dengan Ummi?” tanyanya memulai percakapan dengan Mbak Rana.

Dan aku tak mendengar percakapan selanjutnya, sebab kini aku memasuki kamar. Bersiap mengaji beberapa surah bersama sebelum tidur serta mendengarkan ta'lim harian dari suamiku.

The End. Cilincing, 15 Maret 2015

Kamis, 28 Januari 2016

Assalamu 'alaikum wr. wb.

Segala puji bagi Allah Rabb seluruh semesta. Dan shalawat selalu terlimpah pada panutan umat sepanjang era, Nabi Muhammad saw. Insya Allah mulai hari ini saya akan menyalinkan puisi dan cerpen saya di sini. Semoga bernilai ibadah, bermanfaat dan Allah swt. meridhoi. Amiiin Ya Rabbal 'alamin.