Selasa, 23 Februari 2016



TAMU DION


Padahal Dion baru saja duduk. Dia tengah kesal pada ayah ibu yang melarangnya nogkrong dengan teman-temannya.

"Buang waktu," kata mereka. "Mendingan waktunya dipakai buat mengaji. Sono ke rumah Engkong!"
Uh, nggak asik, masak ngaji melulu.

Apalagi kalau mau pacaran.

"Dosa!" kata Ibu.

Aku kan sudah remaja dan sedang banyak membutuhkan kasih sayang, hiks.
 
Tiba-tiba muncul sebuah kilatan dari langit. Cahaya itu mewujud bayangan putih bersinar, melayang-layang di depannya. Si kurus itu mundur tujuh langkah, salah satunya dengan debu, halah. Bukan najis, keles.
Bayang-bayang itu memiliki wajah. Dan Dion terpana pada wajah itu meski tak bisa menerka laki-laki atau perempuan. Yang jelas, wajah itu indah sekali. Alien dari mana ini? pikir Dion.
 
"Mndmh kdhjsdg bshghdg," kata alien itu.

"Ka-kamu ngomong apa?" Dion gemetar.

"Ghjdgf jfdjsjyue gdd."

"Ngomong apaan, sih?"

"Ihfgf nsshsss."

"Hhhh, kamu tuh ngomong apaan? Lagian kamu siapa sih?" gerutu cowok itu.
 
"Htrur dbdget dyfyruytred. Muiuwiur uyfdhs hft. Ugbhsg bddff, dhhgfgg hsdfd nghg. Rhbdhdk snsgfd hfjhyfuy ...."

"Ooo, kamu mau joget? Hayolah," teriak Dion. Tubuhnya yang tadinya gemetar segera teringat lagu goyang dua lima. Lantas saja dia merentangkan tangannya dengan mengacungkan dua jari kanan dan lima yang kiri.

"Ayo goyang jigo ... ayo goyang dua lima ...!"

Makhluk tersebut beristighfar. Lalu segera menyerahkan sepasang sarung tangan putih. Dion menghentikan tariannya.

"Kuryryr rueje dbcnsdhhe," tunjuk sang alien. Seolah menyuruh Dion memakainya.
Dion pun memasukkan tangan ke dalam sarung putih itu. Di bagian atas terdapat tombol-tombol. Dion menekan salah satu tombol. Dan tiba-tiba di hadapannya terhampar sebuah layar monitor virtual. Ia diminta mengklik bahasa Arab untuk bisa memahami kata-kata makhluk tersebut.
 
"Dion, mari ikut aku."

"Ke mana?"

"Kita akan mengunjungi angkasa raya."

Alien itu mengeluarkan dua buah bola seukuran kasti yang berwarna transparan. Tepatnya tidak berwarna namun menyala-nyala seperti cahaya lampu neon.

"Ini adalah alat pemecah molekul tubuh," ucap makhluk itu mengarahkan salah satu bola ke dada Dion.
Dan tubuh Dion perlahan bias. Awalnya kaki, kemudian perut, dada, tangan dan terakir wajahnya. Tubuh Dion pecah menjadi gelombang kecil dan terhisap ke dalam bola tersebut. Sehingga ia bisa bebas melayang di udara.

Si giyanteng kayak sekoteng belum mateng itu diajak mengunjungi Planet Alpheer. Planet yang bercahaya putih. Sekelilingnya diliputi awan-awan lembut yang terbang rendah dan pelan. Ada beberapa kolam berwarna putih dan beraroma amat lezat. Dion ingin sekali masuk ke dalamnya.
 
"Jangan! Kau dilarang memasukinya?"

"Kenapa? Aku ingin sekali menyentuh awan-awan lembut itu," rengek Dion.

"Tidak. Planet ini hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang menjaga sholatnya tepat waktu."

Dion menganguk-angguk dengan perasaan diliputi penasaran.

Makhluk itu kemudian membawanya ke planet Nhyme. Planet ini berwarna keunguan. Langitnya berwarna violet. Ada barisan debu angkasa berkerlip-kerlip. Tapi bukan. Itu bukan debu. Melainkan peri-peri kecil yang memiliki sayap dan terbang kian ke mari. Di dalamnya terdapat taman anggur yang nampak ranum sekali. Dion ingin memetiknya.

"Jangan, kau tak boleh memakannya."

"Kenapa lagi?" tanyanya.

"Anggur itu hanya diperuntukkan buat mereka yang rajin berpuasa."

Makhluk itu membawanya kembali ke Planet yang lain, Kali ini planet itu berwarna emas. Bersinar-sinar sehingga dari jarak seratus kilometer saja Dion sudah merasakan kemegahannya.
 
"Yang ini aku boleh memasukinya?" tanya Dion.

"Tidak. Ini hanya untuk orang-orang yang membasahi lidahnya dengan ayat-ayat Al-Qur'an."
Dion menelan ludah.

"Lalu mengapa kau ajak aku ke sini ? Jika semua itu tak boleh aku masuki?"
Makhluk itu membawanya pergi.

"Masih ada satu planet lagi yang ingin kutunjukkan kepadamu."
Mereka memecah molekul lagi ke dalam bola kristal.

Mereka menelusuri angkasa. Kali ini di tengah perjalanan Dion merasakan kegerahan. Dahinya mulai berkeringat. Alien di depannya menghentikan terbang. Dari kejauhan nampak sekumpulan planet. Planet-planet itu umumnya berwarna merah. Ada satu yang paling besar dan tepinya berkobar-kobar menyala.

"Kumpulan planet apa ini?" tanya Dion.

"Ini adalah gugusan planet buangan."

"Apa maksudmu?"

"Planet ini berisi benda-benda bahkan manusia tak berguna yang harus dibuang dari alam maya pada. Karena keberadaan mereka yang pendosa dan banyak menyiakan waktunya untuk berbuat dosa."
 
"Ap-apa nama planet ini? Apakah ini ne-neraka?" tanya Dion takut. Keringatnya mulai membasahi kemejanya. Ia melihat beberapa benda angkasa yang beredar di sekitar daerah orbit planet itu hancur dan meledak saat mendekatinya.

Makhluk itu tak menjawab sama sekali. Dion bersyahadat. Lalu masuk kembali ke dalam bola putih. Lalu ia jatuh di bawah jendela kamarnya.

Ia segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat isya serta mengikuti arah ayahnya ke rumah Engkong.

 
Tamat.

Cilincing, 2 Pebruari 2016

 Pasukan Semut Hitam


Alkisah  pasukan semut hitam
Dalam jumlah lima ribuan
Senjata pena  buku panduan
Mencari gula saling menguatkan

Ada teriakan
Ada diam
Namun semua
Rapi dalam satu barisan

Hingga bulan-bulan semakin tanggal
Tahun-tahun berputar mengelilingi  bualan
Sedang corong di sana mengumumkan nirwana
Gula  meraksasa menguarkan kilau keemasan

Semut-semut hitam kini berubah warna
Kepalanya telah putih bercahaya dan kulit  abu-abu menjelma
Jalan pun mulai goyah sendi kian lemah
tulang semakin renta

Lalu satu-satu
semut kelabu terdiam,
tak bergerak,
mati

Lima ribuan jumlahmu kini
satu-satu jatuh tersungkur memeluk asa
Dua ribu semut tengah merayapi entah tali apa
Tiga ribu sisanya terseok entah sampai mana

Cilincing, 24 Februari 2016
TAKDIR SEBUAH HARAPAN   

Versi 2


Harapan adalah tipuan. Harapan adalah udara di ujung sedotan saat terkungkung dalam sumur kegelapan. Kita bisa menghirupnya tapi tak dapat hidup lama dengannya. Dan kau, Danu, kau pria tertampan pertama yang kukenal. Aku mencintaimu setulus hati. Kau serupa angin yang selalu mengiringiku.

“Dan, kapan kau mau melamarku?”

Kau masih duduk di salah satu ayunan besi itu. Mulai mengayunkan kaki, lalu bergerak maju mundur. Angin memainkan rambutmu.

“Entahlah. Aku tak tahu.”

Selalu itu saja jawabanmu. 

“Kau tak ingin kita beriringan di depan altar? Mengenakan warna kontras hitam putih, melempar buket pada para jejaka dan gadis di sana?”

Kau payah, Dan, sama persis dengan ayunan itu. Hanya bergerak maju mundur, tak pernah sampai ke satu titik tertentu. Aku mulai bosan. Andai aku pergi, kau tentu akan tinggal di tempat. Menunggu orang lain datang memontang-pantingkanmu ke sana ke mari saja.

Kulantunkan munajat setiap malam. Kutulis harapan itu pada kertas, kumasukkan dalam botol, kulempar ke laut sejauh bisa. Berharap suatu saat yang menemukannya mengadukan pada langit.

Kutulis lagi surat yang lain. Kuletakkan di bawah bantal. Bermimpi kau melamarku dalam tidur. Kutitipkan surat itu pada pria-pria salih di gereja, wihara dan masjid. Tapi sekian waktu kau masih saja ambigu.

“Dan, sampai kapan begini?”

Kau tertunduk. Tubuh masih disandarkan di atas kursi besi bertali itu.

Kutulis lagi harapan pada selembar kain salat, sepanjang sisi kiri hingga kanannya. Barangkali kali ini Tuhan mau membacanya. Tapi, selain tak mendengar, Tuhan pun tak membaca tulisanku.

Aku marah. Kesal. Tak ingin mengharapkan apa-apa lagi. Hingga suatu hari anakku menarik tanganku, menuntun pada sebuah pusara.

“Mama, sudah dua puluh tahun. Relakan ….”

Ah, Nak, kau sudah besar. Kau cantik sekali. Matamu cokelat. Wajahmu bulat. Kau mewarisi gen pria angin itu.

“Apa yang masih mama harapkan?”

Baiklah, anakku. Aku ingin bercerita tentang pria angin yang sangat kucintai.

Lalu aku mulai menceritakannya pada putriku. Lalu pada setiap orang yang lewat. Lalu aku mulai mengungkapkannya juga pada burung, kucing, ikan di akuarium. Lihatlah, mereka tertawa. Orang-orang di luar sana kini semua tertawa kepadaku. Dan aku mampu tersenyum sepanjang waktu. Hanya anakku saja yang kelihatan masih bersedih.

Tamat

Jakarta, 2 Pebruari 2016
Wanita Ranting


Akulah suci
wanita tanpa dedaun
hanya ranting kering berderak patah

Pernahku cemburu pada rimbun
yang menggeliat dalam dekap angin: basah!


Ingin kucuri satu tangkai berhelai
tuk sekadar tamatkan perjanjian
petualangan batang tanpa harapan
tiada buah sejak akar


Masih
kumenanti peluk matahari
tuk hidupkan kembali benih hijau pati
meski kelopak tlah letih


Sesunyi bumi yang diacuhi bulir padi
Selengang padang yang ditinggalkan ilalang
Hanya panas terik mentari
Meretak-retak petak hati



Cilincing, Agusuts 2015
 

PESAN MENJELANG PERSALINAN

 
Allahummah faz waladi madama fi batni
Anta syafi’ laa syifa’a illa syifauka
La yughadiru saqama ….
Allahumma shawwirhu fi batni shurotan hasanatan
Kasuroti Nabi Yusuf alaihi salam
Wa tsabbit qalbahu imanan bika wabi rasulika
Allahumma tawwil umrahu wasahhih jasadahu wa hassin khuluqahu
wafsih lisanahu Wahsin shoutahu liqira’atil qur’ani wal hadits
Bibarakati Muhammadin sallallahu alaihi wa sallam

“Baca doa itu sering-sering selama hamil hingga menjelang lahiran nanti.” Itu pesan ibuku.

“Nanti kalau mau lahiran, sering-sering mengepel dengan berjongkok ya, La,” pesan ibu mertua.

“Saat keram perutnya nanti, tengoklah jam, kalau masih keramnya selang sejam jangan buru-buru ke dokter. Itu berarti baru pembukaan satu.”

“Oh, begitu.”

“Ya, kalau keramnya sudah tiap lima menit baru ke rumah sakit.”

“Iya,” sahutku.

“Nah, kalau mengejan nanti, jangan bersuara.”

“Jangan bersuara bagaimana?”

“Jangan mengerang. Cukup katupkan gigi dengan gigi, lalu mengejan tanpa suara.”

“Memang kenapa, Ma?” tanyaku pada keduanya.

“Mencegah kejang pada otot leher.”

“Oh” sahutku.

“Lalu pandangan mata diarahkan ke bundaran perut.”

“Bukan bundaran HI, Ma?’ tawaku cekikikan.

“Huss! Jauh banget,”

“Hahaha,” aku tertawa.

“Kedua tangan memegang paha bagian dalam.”

“Terus jangan sekali-kali mengangkat bokong.”

“Kenapa lagi itu, Ma?”

“Supaya tidak mendapat jahitan.”

“O, gitu. Iya iya akan kuingat-ingat semua, aku cataaat,” teriakku.
Saat melahirkan tiba, perutku terasa sangat mulas. Belum apa-apa aku sudah menangis.

“Mamaaa …!” teriakku.

Aku lupa semua ajaran kedua wanita yang sama-sama punya pengalaman melahirkan sembilan kali itu.

 

Tamat 
Jakarta, 14 Mei 2015
Aku bisa!


Sebenarnya aku bisa saja
Membiarkanmu di depan teras
Saat itu hujan deras

Kau bungkusi satu-satu kenangan lama
Mengikatnya pada tiang lupa
Meninggalkanku penuh darah: luka!

Namun ragumu berayun tertiup angin sampai
Pandangmu lemah sarat serapah
Buatmu sendiri saat kemarau hujan tak datang 
Seperti debu yang memenuhi paru tenggorokanmu 
:hitam!
Suaramu parau

Adakah sesal?
Tiada guna  kubuka gerbang itu
Biar kuberserah pada takdir Tuhan

Cilincing, 3 November 2015
BELLA DAN CHIKA


Di suatu pagi yang sudah agak siang tapi belum terlalu sore, Bella berjalan terburu-buru. Suasana lumayan gegap. Ia berjinjit-jinjit menghindari liang-liang di jalan. Banyak sekali genangan air hujan bekas gerimis semalam. Celana jins ketatnya membalut kaki yang kurus.

Tas merah muda berumbai-rumbai terselempang di bahu. Sebuah kecrek kecil didekapkan ke dada. Mau ikutan? Enak aja. Dadanya rata kok. Tapi, ke manakah sesungguhnya ia menuju? Mendingan nyanyi dulu, ney.

Ke mana … ke mana … ke mana ….
Kuharus mencari ke mana ....

Okey, masih bisa digoyang? Sambung nanti lagi deh, soalnya dia sudah sampai di tempat tujuan.

“Hai!” sapanya kepada Chika yang memandang dari bangku taman.

“Hai juga,” sahut Chika.

“Lama nggak nunggu gue, cyin ...?”

“Nggak, cyin, gue baru dateng, kok.”

“Oh .... Udah makan?”

“Udah.”

“Udah minum?”

“Udah.”

“Udah mandi?”

“Keterlaluan banget sie pertanyaan lo. Belom lah. Udah cepetan sini, keburu sore nih,” kata Chika nggak sabar.

Si Bella tertawa. Setengah terbahak setengah malu-maluin. Lalu membuka tas. Mengeluarkan dua lembar KTP bertuliskan nama Ahmad Burhan dan Saparudin.

“Nih punya gue, nih punya lo.”

Seketika situasi menjadi nyenyat. Seiring renyut jantung mereka. Chika buru-buru memasukkan miliknya ke dalam tas.

“Udah, buruan ah. Ntar keburu dateng KAMTIB.”

“Yuuuk.”

Lalu keduanya mendatangi satu persatu mobil yang lewat di depan taman sambil membawa kecrek dan kantong bekas bungkus permen. Masih bisa digoyang?


Tamat

Jakarta, 1 Juli 2015